Rabu, 16 Februari 2011

TELAAH TEOLOGIS TERHADAP AJARAN DOKTRIN TRITUNGGALNYA ABUNA PROF. DR. K.A.M.JUSUF RONI

By. Esra Alfred Soru



Pendahuluan.

Pada tanggal 2-3 November 2010 yang lalu di kota Kupang diselenggarakanlah sebuah acara KKR dan Seminar yang menghadirkan pembicara Pdt. Jusuf Roni. Tentu banyak di antara kita yang pernah mendengar nama Pdt. Jusuf Roni, seorang yang pernah populer di kalangan Kristen karena pertobatannya dari seorang Islam yang aktif (bahkan menurut kesaksiannya terlibat aktif dalam penganiayaan terhadap orang Kristen) menjadi seorang Kristen. Ia sempat dipenjara selama 6 tahun sewaktu dia sedang kuliah di Sekolah Tinggi Theologia Institut Injil Indonesia (STT I-3), Batu, Malang. Pendeta Jusuf Roni juga dikenal luas karena

Selasa, 08 Februari 2011

YOHANES PEMBAPTIS


Pengkhotbah

Esra Alfred Soru

S
aat ini kita berada dalam minggu-minggu pra Natal dan karenanya kita perlu mempersiapkan diri kita dengan belajar dari Firman Tuhan. 2000 tahun yang lalu, sesaat sebelum terjadi Natal yang pertama, tampillah seorang yang pengkhotbah yang bernama Yohanes Pembaptis. Ia adalah seorang pembuka jalan bagi Kristus. Karena itu rasanya pas jika hari ini dalam rangka persiapan kita merayakan Natal, kita belajar dari Yohanes Pembaptis ini. Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari Yohanes Pembaptis ini tapi hari ini kita akan khususkan pembahasan pada Yoh 3:22-30 saja.

Yoh 3:22-30 – (22) Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. (23) Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, (24) sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. (25) Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. (26) Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." (27) Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. (28) Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. (29) Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. (30) Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.


TUNTUTAN KRISTUS

Pengkhotbah

Esra Alfred Soru

K

ita akan belajar Firman Tuhan hari ini dari satu bagian Alkitab yang terus terang membingungkan banyak orang. Apa yang dibingungkan dan mengapa harus bingung? Kita akan melihatnya dalam pembahasan khotbah ini. Mari kita membaca teks yang akan kita bahas ini. 

Mat 10:32-36 - “(32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. (33) Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.’ (34) ‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya”.


TABIR YANG TERBELAH

Pengkhotbah

Esra Alfred Soru

P
uji Tuhan bahwa hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk beribadah dan juga mengambil bagian di dalam sakramen Perjamuan Kudus. Untuk itu mari kita mengarahkan diri kita kepada hal ini dengan merenungkan satu bagian Firman Tuhan yang adakah sebuah peristiwa ajaib yang terjadi pada saat Yesus Tuhan kita mati di atas kayu salib yakni peristiwa tirai Bait Allah terbelah menjadi dua. Mari kita lihat ayat berikut :

Mat 27:51 - Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah


Pada saat menjelang dan kematian Yesus di atas salib, ada banyak peristiwa ajaib terjadi seperti kegelapan selama 3 jam karena matahari tidak bersinar :

Luk 23:44-45 – (44) Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, (45) sebab matahari tidak bersinar. ….”

Terjadinya gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah :

Mat 27:51 – “…. dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah

Dan orang-orang kudus bangkit :

Mat 27:52 - dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.
Tapi salah satu peristiwa yang cukup menyolok yang terjadi saat Yesus mati adalah terbelahnya tabir Bait Suci.

Mat 27:51 - Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah …..”

Luk 23:45 – “…. Dan tabir Bait Suci terbelah dua

TANGGAPAN PDT.BUDI ASALI, M.DIV ATAS TULISAN DR.STEVEN LIAUW “PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON-KALVINIS”

Info. Dalam website Graphe Ministry, Dr. Stephen Liauw menulis sebuah artikel berjudul "PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON-KALVINIS" yang menyerang doktrin Calvinisme.(Silahkan klik disini : http://graphe-ministry.org/downloads/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis%281%29.pdf.

Teryata dalam tulisan ini Steven Liauw banyak memfitnah Calvinisme dan karena itu maka Pdt. Budi Asali, M. Div terpanggil untuk memberikan tanggapan terhadap tulkisan ini. Berikut ini tanggapannya yang disisipkan di sela-sela tulisannya Steven Liauw.

Ket. Tulisan biru adalah tulisan Steven Liauw sedangkan tanggapan Pdt. Budi Asali yang berwarna merah.
Bagian 1: Jika manusia harus beriman agar selamat, apakah berarti ia punya andil dalam keselamatan?

Ketika mendiskusikan mengenai masalah Kalvinisme, banyak terjadi salah pengertian dan debat kusir, karena tidak mengerti inti perbedaan satu pandangan dengan lainnya. Akibatnya, kedua belah pihak ngotot pada posisinya masing-masing, dan saling menyalahkan, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh pihak lawan. Tentu, ini diperparah ketika suatu istilah dipakai dengan dua pengertian yang berbeda, sehingga diskusi tidak pernah mencapai titik temu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui, di mana letak perbedaan yang sebenarnya, antara seorang Kalvinis dengan seorang non-Kalvinis. Seri ini akan membahas satu-persatu, perbedaan-perbedaan krusial antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Ada cukup banyak perbedaan, tetapi saya akan fokus kepada satu perbedaan di setiap seri.

Pertama-tama, sebelum membahas perbedaan, kita perlu melihat dulu, tentang persamaan mereka. Kalvinis maupun non-Kalvinis (yang Alkitabiah) percaya Alkitab sebagai Firman Allah dan standar kebenaran. Keduanya percaya bahwa keselamatan didasarkan pada karya pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, menggantikan manusia. Keduanya percaya bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia, tanpa ada jasa atau usaha manusia di dalamnya. Mungkin di sinilah Kalvinis mulai protes, dan menegaskan bahwa non-Kalvinis sedikit banyak mengandalkan jasa/usaha manusia untuk masuk Surga. Tetapi, itu tidak benar. Semua orang yang Alkitabiah akan mengatakan bahwa keselamatan tidaklah tergantung pada jasa/usaha manusia. Letak perbedaan sebenarnya adalah: KALVINIS MENGANGGAP IMAN PERCAYA SEBAGAI SUATU JASA/USAHA, SEDANGKAN NON-KALVINIS MENGATAKAN BAHWA IMAN PERCAYA BUKANLAH USAHA.

Tanggapan Budi Asali:
Ini fitnah. Calvinisme tidak pernah menganggap bahwa iman / percaya adalah jasa / usaha! Di atas, orang ini mengatakan “Ketika mendiskusikan mengenai masalah Kalvinisme, banyak terjadi salah pengertian dan debat kusir, karena tidak mengerti inti perbedaan satu pandangan dengan lainnya. Akibatnya, kedua belah pihak ngotot pada posisinya masing-masing, dan saling menyalahkan, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh pihak lawan.”. Tetapi ternyata ia sendiri berbicara tentang Calvinisme tanpa mengerti apa Calvinisme itu! Atau, ia memang memfitnah secara sengaja?
*****************************************************************************
Inilah salah satu poin perbedaan mendasar antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Bagi orang-orang Alkitabiah, keselamatan adalah karena kasih karunia, oleh iman (Ef. 2:8). Artinya, tidak ada suatu apapun dalam diri manusia yang membuat dia pantas diselamatkan. Keselamatan adalah sepenuhnya kasih karunia. Tuhan menyelamatkan manusia bukan karena dia baik (manusia sudah bobrok dalam dosa), bukan karena dia hebat, bukan karena dia memiliki suatu hal yang menarik, bahkan bukan karena dia memiliki iman. Iman bukan dasar dari keselamatan. Kasih karunia adalah dasar dari keselamatan. Allah menyelamatkan manusia, semata-mata karena Ia berbelas kasihan, dan menaruh kasih kepada manusia. Namun demikian, Alkitab juga tegas mengatakan, bahwa keselamatan itu adalah oleh iman. Artinya, iman adalah syarat dari keselamatan. Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada manusia atas dasar kasih karunia, tetapi Tuhan menuntut syarat, yaitu iman. Harus dibedakan apa itu DASAR dan apa itu SYARAT.

ILUSTRASI: Ada seorang yang kaya dan baik hati, tinggal di rumahnya yang megah. Dia lalu melihat bahwa ada sejumlah anak-anak gelandangan yang tidak memiliki rumah, setiap hari tidur di bawah jembatan tidak jauh dari rumahnya. Ia lalu berbelas kasihan kepada mereka dan memutuskan untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada mereka. Ia memanggil mereka, lalu berkata: barangsiapa yang mencuci mobil saya, akan saya berikan tempat tinggal yang layak. Nah, di sini kita melihat, bahwa bagi seorang gelandangan yang mendapat rumah, DASAR kebahagiaannya adalah belas kasihan dari si orang kaya. Tetapi, SYARATnya adalah mencuci mobilnya. Mencuci mobil bukanlah alasan mengapa orang kaya itu mau memberikan rumah kepada anak gelandangan. Toh, mencuci mobil tidak sebanding dengan harga rumah yang akan dia berikan. Orang kaya itu sudah memiliki ALASAN/DASAR untuk memberi rumah, barulah ia mengajukan SYARAT bagi para gelandangan. ALASANnya adalah belas kasihannya, SYARAT yang dia ajukan adalah “mencuci mobilnya.” Jadi, DASAR berbeda dengan SYARAT.

Nah, kembali ke realita, Allah menyelamatkan manusia dengan DASAR kasih karuniaNya (ini adalah alasan Allah), dengan syarat manusia itu harus beriman/percaya. Efesus 2:8 menyatakan hal ini: “Sebab KARENA (alasan) kasih karunia kamu diselamatkan OLEH (syarat/cara) iman...” Mungkin ada yang berkata: “Nah, bukankah seperti dalam ilustrasi tadi, jika ada SYARAT mencuci mobil, maka berarti perlu andil/usaha untuk mendapatkan kasih karunia itu.” Benar! Kalau syaratnya adalah “mencuci mobil,” maka ada usaha manusia. Bahkan, syarat apapun yang diajukan, mengimplikasikan adanya usaha manusia, kecuali satu syarat: percaya/beriman atau menerima. Kalau syaratnya adalah mencuci, berjalan, melompat, dll., maka ada unsur usaha manusia, tetapi tidak jika syaratnya adalah menerima/percaya. Satu-satunya SYARAT yang tidak melibatkan usaha/jasa adalah “menerima kasih karunia itu” atau “percaya, beriman.” Tetapi, disinilah letak perbedaan Kalvinis dan non-Kalvinis. Kalvinis bersikukuh, bahwa jika manusia diharuskan untuk menerima kasih karunia agar selamat, maka artinya manusia memiliki andil dalam keselamatan. Manusia lalu bisa menyombongkan diri, bahwa adalah karena jasa-jasanya ia selamat.

Tanggapan Budi Asali:
Fitnah lagi. Kalau tak mengerti apa itu Calvinisme jangan menulis tentang Calvinisme!
Calvinisme tak pernah menganggap bahwa orang yang menerima kasih karunia itu mempunyai andil dalam keselamatan.
Dan lucunya, atau lebih tepat tololnya, orang ini menulis apa yang bertentangan dengan kata-katanya di atas karena di atas ia sendiri berkata “Keduanya percaya bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia, tanpa ada jasa atau usaha manusia di dalamnya”.
**********************************************************************************
Oleh karena itu, DALAM THEOLOGI KALVINIS, IMAN BUKAN SYARAT KESELAMATAN, IMAN ADALAH HASIL DARI KESELAMATAN!

Tanggapan Budi Asali:
Fitnah lagi. Itu bukan ajaran Calvinisme. Calvinisme percaya iman adalah syarat keselamatan, bukan hasil keselamatan. Memang orang tolol ini asal buka mulut, dan mengumbar ketololannya!
**********************************************************************************
Menurut Kalvinis, manusia tidak menerima kasih karunia, barulah ia lahir baru, justru ia bisa menerima/percaya karena ia sudah dilahirbarukan. Sebagai contoh, Piper mengatakan: “Kami tidak berpikir bahwa iman mendahului.....kelahiran kembali. Iman adalah bukti Allah telah melahirkan kita secara baru.” MacArthur menegaskan bahwa “Regenerasi secara logis harus memulai iman.” Sproul menambahkan: “Regenerasi (kelahiran kembali) bukanlah buah atau hasil dari iman. Sebaliknya, regenerasi mendahului iman, sebagai suatu syarat bagi iman.” Jadi, urutan Kalvinis terbalik dibandingkan dengan urutan Alkitab. Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima. Sedangkan Alkitab mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Jadi, menurut Alkitab, menerima dulu (percaya dulu), barulah menjadi anak Allah (dilahirbarukan). Menurut Kalvinis, lahir baru adalah syarat iman. Menurut Alkitab, iman adalah syarat lahir baru. Efesus 2:8 sudah membuktikan hal ini. Ayat-ayat lain mengukuhkan hal ini: Kisah Rasul 3:19 (bertobat dulu baru dosa dihapus), Kisah Rasul 16:31 (percaya dulu, baru dosa dihapus/selamat).


Tanggapan Budi Asali:
1) Dari kutipan-kutipan yang ia berikan, dari mana ia menyimpulkan bahwa ‘Menurut Kalvinis, manusia tidak menerima kasih karunia’??? Lagi-lagi asal buka mulut, tanpa otak! Para penulis Calvinist yang ia kutip bicara soal regeneration dan iman, bukan regeneration dan kasih karunia!
2) Penulis ini sama sekali tidak mengerti konsep Calvinisme tentang kelahiran baru (regeneration). Karena itu bisa menulis Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima’. Karena ketololannya itu ia lalu menyimpulkanMenurut Kalvinis, lahir baru adalah syarat iman’. Padahal sebetulnya, bagi Calvinisme ‘kelahiran baru’ beda dengan keselamatan, dan juga beda dengan iman. Perbedaan ini berlaku baik untuk arti dari istilahnya maupun saat terjadinya hal-hal itu.
3) Ajaran Calvinisme tentang kelahiran baru, iman dan keselamatan adalah sebagai berikut: Karena manusia berdosa itu mati di dalam dosa (Yoh 10:10 Ef 2:1 Kol 2:13), maka ia tidak mungkin bisa mengerti, ataupun menghargai, apalagi percaya pada Injil / Yesus Kristus (1Kor 2:14). Karena itu, ia harus dihidupkan secara rohani / dilahirbarukan lebih dulu. Ini merupakan pekerjaan Roh Kudus sepenuhnya (Yoh 3:3,5,6,8), dan manusia itu pasif secara total (perhatikan kata kerja bentuk pasif ‘dilahirkan’). Setelah ia dilahirkan kembali, maka ia menjadi hidup (tetapi belum selamat, karena selamat mensyaratkan iman). Setelah ia hidup, maka ia bisa mendengar Injil, dan bisa menghargainya. Tetapi iman tetap masih harus dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan (Fil 1:29). Setelah Tuhan memberinya iman, maka barulah ia selamat / mendapatkan hidup kekal! (Kis 16:31 Yoh 3:16 dsb).
Contoh yang cukup jelas dari hal ini adalah dalam kasus dari Lidia.
Kis 16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya”.
Kata-kata ‘Tuhan membuka hatinya’ menunjuk pada kelahiran baru yang ia alami. Dan itu menyebabkan ia memperhatikan apa yang dikatakan Paulus, dan lalu percaya.
Jadi, tidak ada kontradiksi antara ajaran Calvinisme dengan ayat-ayat yang ia berikan seperti Ef 2:8 Kis 3:19 Yoh 1:12 dan sebagainya.
Catatan: baca ayat-ayat referensi yang saya berikan, supaya saudara bisa melihat bahwa apa yang saya / Calvinisme ajarkan, memang betul-betul mempunyai dasar Alkitab yang kuat!

**********************************************************************************
Tetapi kita harus kembali kepada: mengapakah Kalvinis membuat urutan yang sedemikan aneh? Dari mana mereka mendapat ide bahwa manusia lahir baru dulu, barulah beriman? Ini semua berakar dari dua konsep mereka yang salah, yaitu:
1. Bahwa manusia tidak bisa beriman/percaya tanpa lahir baru
2. Bahwa jika manusia harus beriman/menerima kasih karunia untuk keselamatannya, maka itu sama dengan keselamatan karena usaha. Poin nomor dua ini yang menjadi pokok pembahasan kita di artikel ini.

Tanggapan Budi Asali:
Tak ada urutan aneh dalam ajaran Calvinisme. Urutan aneh itu hanya ada dalam kepala tanpa otak dari penulis tolol yang sok pinter ini!
Point no 1 saya terima. Calvinisme memang mengajarkan itu, seperti dikatakan oleh para penulis Calvinist yang ia kutip di atas. Tetapi point ke 2 adalah fitnah. Itu bukan ajaran Calvinisme.
*********************************************************************************
Seorang Kalvinis yang pernah berdiskusi dengan saya menyatakannya seperti demikian: “Jika saya dapat memilih untuk menerima atau menolak kasih karunia Allah, maka ketika saya masuk Surga, saya dapat menyombongkan diri, bahwa saya telah memilih untuk menerima.” Untuk memperkuat pandangannya, Kalvinis menyerang orang-orang Alkitabiah. Kalvinis berkata bahwa jika harus percaya dulu, baru selamat, maka berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi benarkah konsep ini? Sepertinya hanya Kalvinis yang berpikir demikian. Coba kita lihat dalam skenario hidup.


Tanggapan Budi Asali:
1) Calvinist yang mana yang berdiskusi dengan begitu tolol? Mengapa tolol? Karena ‘kasih karunia’ bertentangan dengan penyombongan diri! Ef 2:8-9. Juga dalam Calvinisme, pemberian kasih karunia Allah itu bukan hanya sampai pada taraf kita bisa memilih mau percaya atau tidak, tetapi sampai pada taraf kita betul-betul percaya dan diselamatkan.
2) Perlu diketahui bahwa di Indonesia ini ada banyak orang mengaku sebagai Calvinist / Reformed, padahal mereka sama sekali bukan Calvinist / Reformed. Kebanyakan orang Kristen di Indonesia tidak mengerti apa itu Calvinisme, termasuk penulis yang menyerang Calvinisme ini.
Yang jelas, apa yang dikatakan oleh ‘Seorang Kalvinis’ yang berdiskusi dengan dia ini bukanlah ajaran Calvinisme.
3) Lalu kata-kata penulis itu selanjutnya berkata sebagai berikut: “Untuk memperkuat pandangannya, Kalvinis menyerang orang-orang Alkitabiah. Kalvinis berkata bahwa jika harus percaya dulu, baru selamat, maka berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri”. Lagi-lagi fitnah! Calvinist mana yang mengatakan seperti itu?
Ilustrasi: Ada seorang yang sangat miskin sekali. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan makan pun sulit. Tambahan lagi, dia tidak memiliki keterampilan apapun yang dapat dibanggakan. Suatu hari, seorang yang sangat kaya, memutuskan untuk memberikan kepada si miskin ini, suatu harta yang besar jumlahnya. Si miskin tidak perlu melakukan apapun, selain dari menerima hadiah itu. Hadiah itu gratis! Jika si miskin menerima harta tersebut, dapatkah ia berbangga, bahwa dia kini kaya karena usahanya? Dapatkah ia menyombongkan diri kepada teman-temannya bahwa ia berjasa atas kekayaan yang kini ia nikmati? Bisakah dia berdalih: “Saya hebat, karena saya memilih untuk menerima?” Dapatkah dia berkata bahwa karena dia menerima hadiah itu, dia sendirilah yang telah membuat dirinya kaya? Teman-temannya yang berpikiran waras tentu akan berseru: “Tinggal menerima saja, itu sih bukan hebat! Itu terima bersih namanya!” Tidak seorangpun yang belum terkontaminasi Kalvinisme, akan berpikir bahwa si miskin ini memiliki jasa dalam hal itu. Juga tidak ada yang akan berkata bahwa ia menjadi kaya karena usahanya. Semua akan mengatakan bahwa dia menjadi kaya karena kasih karunia dari sang orang kaya!

Demikian juga, tidak ada satu orangpun yang waras, yang belum terkontaminasi oleh Kalvinisme, akan mengatakan bahwa tindakan percaya/beriman merupakan jasa manusia dalam keselamatan. IMAN BUKANLAH USAHA/JASA! Tetapi Kalvinisme, secara sistematis menuduh bahwa kita yang mengajarkan “iman” sebagai syarat keselamatan, adalah orang-orang yang mengandalkan “usaha sendiri” atau “kehebatan sendiri” untuk masuk Surga. Tidak demikian bung! Secara logis, jika seseorang memberikan hadiah, memang harus diterima, dan tindakan menerima itu bukanlah suatu usaha atau jasa pihak penerima. Kalau ada orang-orang yang menolak hadiah tersebut, bukan berarti ada kehebatan di pihak orang-orang yang menerima, melainkan adanya kebodohan di pihak orang-orang yang menolak.

Tanggapan Budi Asali:
‘Secara sistematis’? Mengapa tak ada kutipan sama sekali? Berikan saya satu saja kutipan kata-kata seorang ahli theologia Reformed / Calvinist yang mempercayai kata-kata tolol itu. Calvinisme yang sesungguhnya memang tidak mempercayai bahwa iman adalah usaha! Lalu siapa / apa gerangan yang diserang oleh orang tolol ini? Calvinisme juga tidak pernah mengajarkan bahwa ‘kita yang mengajarkan “iman” sebagai syarat keselamatan, adalah orang-orang yang mengandalkan “usaha sendiri” atau “kehebatan sendiri” untuk masuk Surga’. Jadi, jangan ngawur saja bung!

Sekarang perhatikan kata-kata penulis ini di bagian akhir yang berbunyi sebagai berikut: Kalau ada orang-orang yang menolak hadiah tersebut, bukan berarti ada kehebatan di pihak orang-orang yang menerima, melainkan adanya kebodohan di pihak orang-orang yang menolak’. Ini kata-kata / kepercayaan penulis itu sendiri, bukan? Ia mengatakan bahwa penolakan dari orang-orang tertentu tak menunjukkan kehebatan dari orang yang menerima, tetapi menunjukkan kebodohan dari orang-orang yang menolak. Kalau yang menolak bodoh, bukankah yang menerima sedikitnya ‘tidak bodoh’? Dan ‘tidak bodoh’ sedikit banyak menunjukkan ‘kehebatan’ bukan? Jadi, orang tolol ini justru mengajar sendiri apa yang ia fitnahkan sebagai ajaran Calvinisme. Dasar tak punya otak!
*********************************************************************************
Jadi kita lihat, bahwa theologi Kalvinis, yang menyamakan iman dengan usaha, tidak sesuai dengan logika.


Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi fitnahan tolol. Calvinisme tidak menyamakan iman dan usaha!

Tetapi, logika bukanlah standar tertinggi kita. Lebih parah lagi, theologi Kalvinis ini menyalahi Alkitab. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa iman berbeda dengan usaha. Salah satu perikop yang jelas sekali dalam hal ini adalah Roma 4:1-6.
“Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” (Roma 4:1-6)

Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa Alkitab membedakan antara PEKERJAAN atau USAHA dengan IMAN! Iman bukanlah usaha! Alkitab tegas dalam hal ini! Jadi, jika kita mengatakan bahwa “anda perlu percaya Yesus untuk lahir baru,” itu tidaklah mengajarkan keselamatan berdasarkan usaha/jasa sendiri. Siapapun yang membaca Alkitab tanpa pernah dipengaruhi oleh Kalvinisme sebelumnya, tidak akan berkesimpulan bahwa “lahir baru” mendahului “iman.” TIDAK ADA SATU AYAT PUN YANG MENGAJARKAN LAHIR BARU DULU BARU BERIMAN.

Tanggapan Budi Asali:
Mula-mula penulis ini bicara tentang iman dan usaha, tetapi bagaimana mungkin ia tahu-tahu nyelonong ke ‘lahir baru’??
Dan kata-katanya menunjukkan bahwa ia mempercayai kata-kata ‘anda perlu percaya Yesus untuk lahir baru’. Apa gerangan yang ia maksudkan dengan ‘lahir baru’??
*********************************************************************************
Tentang ‘lahir baru mendahului iman’, Calvinisme memang mempercayainya, dan ayat-ayat dasarnya sudah saya berikan di atas. Kalau penulis ini mengatakan ‘TIDAK ADA SATU AYAT PUN YANG MENGAJARKAN LAHIR BARU DULU BARU BERIMAN’, maka saya bertanya: mengapa harus satu ayat? Dalam Alkitab juga tak ada satu ayat yang mengajarkan doktrin Allah Tritunggal, tetapi dari banyak ayat kita menyimpulkan doktrin itu. Lalu mengapa beda dalam hal ini? Satu ayat memang tidak ada. Itu merupakan kesimpulan dari banyak ayat yang sudah saya berikan di atas.

Sebaliknya, untuk mempertahankan theologi mereka, Kalvinis membuat berbagai skema yang rumit. Untuk mengakomodasi Roma 4:1-6, sebagian Kalvinis menyatakan bahwa pembenaran adalah setelah percaya, tetapi lahir baru adalah sebelum percaya.
Jadi, urutan keselamatan Kalvinis:
1. Dilahirbarukan secara pasif oleh Tuhan (Regenerasi)
2. Menjadi percaya atau beriman atau menerima
3. Dibenarkan (Justification)

Tanggapan saya :
Ini adalah ajaran Calvinisme, bahkan semua Calvinist (bukan ‘sebagian’) mengajar seperti itu.
******************************************************************************
Urutan demikian sungguh tidak masuk akal, karena memisahkan regenerasi dengan pembenaran. Dalam skema Kalvinis, “iman” hanyalah formalitas belaka. “Iman” hanyalah suatu buah dari keselamatan itu sendiri, sama seperti pekerjaan baik adalah buah dari keselamatan. Kalau Kalvinis benar, maka “iman” bukanlah syarat atau alasan pembenaran, karena iman itu sendiri adalah efek dari kelahiran kembali.

Tanggapan saya:
Orang tak punya logika ini bicara tak karuan. Ia betul-betul tak punya pengertian tentang regeneration dan pembenaran.
Calvinisme mempercayai bahwa regeneration memang beda / pisah dari pembenaran.
Calvinisme tidak mempercayai bahwa ‘iman’ hanyalah formalitas belaka.
Calvinisme tidak mempercayai bahwa ‘iman’ adalah buah dari keselamatan.
Calvinisme percaya bahwa pekerjaan baik memang merupakan buah dari keselamatan./
Calvinisme percaya bahwa iman adalah syarat pembenaran.
Karena orang ini mencampur-adukkan antara hal-hal yang dipercayai dan tidak dipercayai oleh Calvinisme (tetapi semuanya ia anggap sebagai hal-hal yang dipercayai oleh Calvinisme), maka ia menganggap Calvinisme kacau. Sebenarnya yang kacau adalah otaknya!
******************************************************************************
Artinya, secara logis Kalvinis mengajarkan:
1. Orang lahir baru dulu, baru beriman
2. Orang menjadi anak Allah dulu (lahir ke dalam keluarga Allah), baru beriman

Tanggapan Budi Asali:
Lahir baru tidak sama dengan menjadi anak Allah! Dalam Calvinisme dibedakan antara ‘lahir baru dalam arti yang sempit’ dan ‘lahir baru dalam arti yang luas’.
Yang pertamalah yang biasanya disebut dengan istilah ‘regeneration’ dalam theologia. Kalau ini mau diilustrasikan, ini menunjuk pada pertemuan sperma dengan sel telur. Sudah ada janin, sudah ada kehidupan, tetapi belum lahir menjadi bayi / anak.
Sedangkan yang kedua mencakup daerah yang lebih luas, sampai orang itu percaya, dan menjadi anak Allah.
********************************************************************************
3. Orang memiliki hidup dulu (lahir baru), baru beriman
Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat Alkitab yang bertentangan dengan urutan tersebut:
1. Yoh. 6:47 berkata “barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” BUKAN “barangsiapa memiliki hidup menjadi percaya.”

Tanggapan Budi Asali:
Penulis ini tak bisa membedakan ‘hidup’ dan ‘hidup kekal’!
********************************************************************************
2. Yoh. 1:12 berkata menyatakan bahwa yang menerima Yesus menjadi anak-anak Allah, BUKAN bahwa anak-anak Allah menjadi menerima Yesus.

Tanggapan Budi Asali:
Apa urusannya ayat ini dengan argumentasinya? Calvinisme juga mempercayai ayat ini. Menerima tak perlu dibedakan dengan percaya.
Dan ‘lahir baru’ bukan berarti telah menjadi anak Allah!

*****************************************************************************
3. Kis. 16:31 menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan membawa selamat, BUKAN selamat dulu lalu akan menjadi percaya.


Tanggapan Budi Asali:
Calvinisme juga tidak mempercayai selamat baru percaya!
*****************************************************************************
4. Yoh. 20:31 menyatakan “oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya,” BUKAN memperoleh hidup agar bisa beriman. Ayat ini juga menegaskan iman sebagai SYARAT keselamatan.

Tanggapan Budi Asali:
Calvinisme juga percaya bahwa iman yang menyebabkan kita menerima hidup (dalam arti ‘hidup kekal’, bukan hidup karena kelahiran baru).
Calvinisme juga percaya bahwa iman adalah dasar keselamatan.
*****************************************************************************
5. Roma 10:13-14, percaya dulu, kemudian bisa berseru kepada Tuhan (dalam iman), lalu diselamatkan. BUKAN lahir baru dulu baru percaya.

Tanggapan Budi Asali:
Ayat ini tak ada urusannya dengan lahir baru! Dibelokkan saja secara ngawur oleh penulis tolol ini!
*****************************************************************************
6. 1 Kor. 4:15, orang-orang Korintus lahir baru, melalui percaya INJIL yang diberitakan Paulus. BUKAN lahir baru lalu menjadi percaya INJIL.

Tanggapan Budi Asali:
Ngawur saja dalam gunakan ayat.


1Kor 4:15 - “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu”.


Ayat ini sama sekali tidak bicara tentang lahir baru!
*****************************************************************************
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, bahwa:
1. Kalvinis menganggap bahwa jika iman dijadikan syarat keselamatan, itu sama saja dengan menyelamatkan diri sendiri. Iman dianggap sebagai suatu jasa atau usaha dari pihak manusia.

 Tanggapan Budi Asali:
Ngawur, dan fitnah!
*****************************************************************************
2. Kalvinis menganggap bahwa orang lahir baru dulu, barulah ia menjadi percaya. Iman adalah buah dari keselamatan/regenerasi.

Tanggapan Budi Asali:
Selalu mengacaubalaukan keselamatan dengan regeneration. Kedua hal itu beda!

Kalau lahir baru baru beriman, saya / Calvinisme memang percaya. Kalau iman merupakan buah dari regeneration, saya / Calvinisme juga setuju. Tetapi kalau iman adalah buah dari keselamatan, saya / Calvinisme tak pernah setuju! Ini fitnahan lagi!
*****************************************************************************
3. Alkitab menyatakan bahwa iman adalah syarat keselamatan, kasih karunia adalah dasar keselamatan.

Tanggapan Budi Asali:
Saya / Calvinisme setuju ini!
*****************************************************************************
4. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan oleh iman, bukanlah keselamatan oleh usaha manusia. Iman berbeda dengan usaha. Iman tidak dapat dianggap sebagai suatu jasa.

Tanggapan Budi Asali:
Saya / Calvinisme setuju ini!
*****************************************************************************
5. Alkitab menegaskan bahwa iman mendahului keselamatan, mendahului kelahiran kembali, mendahului hidup kekal, mendahului pembenaran, mendahului adopsi menjadi anak Allah.


Tanggapan Budi Asali:
Iman mendahului keselamatan, mendahului hidup kekal, mendahului pembenaran, mendahului pengadopsian menjadi anak Allah, saya / Calvinisme setuju.
Iman mendahului kelahiran baru, saya / Calvinisme tidak setuju.

Minggu, 30 Januari 2011

SIMON ORANG KIRENE


K
 kita akan belajar dari seorang yang sebenarnya cukup terkenal tetapi kurang diperhatikan karena keterangan yang sangat singkat tentang dirinya di dalam Alkitab. Orang ini adalah “SIMON” yang membantu Yesus memikul salib menuju Golgota. Mari kita lihat teks kita :

Mat 27:32 - Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Kita akan belajar tentang Simon ini dalam beberapa point : 

PRISKILA & AKWILA

H
ari ini Kita bersyukur bahwa Tuhan mengijinkan kita untuk pindah tempat berbakti lagi. Kita tidak tahu apakah ini adalah tempat terakhir kita beribadah sebelum masuk ke gedung kita sendiri, atau masih ada tempat berikut lagi yang akan kita singgahi, tetapi itu bukan masalah. Tetapi itu bukanlah masalah. Gerejanya Rick Warren berpindah 79 kali selama 15 tahun. Kita belum seperti itu kan? Yang paling penting dan merupakan masalah yang harus terus kita gumuli adalah apakah kita terus mengalami kemajuan atau tidak? Ada banyak gereja yang menunjukkan pertumbuhan yang baik di tahun-tahun pertama namun akhirnya mereka menjadi stagnan di tahun-tahun selanjutnya. Para pakar pertumbuhan gereja mengatakan bahwa : “Gereja yang tidak maju sama dengan gereja yang mundur”. Saya berharap bahwa stagnansi atau bahkan kemunduran semacam ini tidak dialami oleh gereja kita. Menandai rasa syukur kita dan harapan untuk terus maju, maka hari ini saya akan mengajak kita belajar Firman Tuhan dan meneladani 2 orang di dalam Alkitab yang tidak terlalu terkenal. Mereka adalah Priskila dan Akwila. Kita akan melihat teks Kis 18:1-4.

Kis 18:1-4 – (1) Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (2) Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. (3) Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. (4) Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.

Sebagaimana sudah saya katakan tadi bahwa Priskila dan Akwila ini tidak terlalu dikenal di dalam Alkitab. Mereka tidak seterkenal Abraham, Musa atau Nuh. Mereka juga tidak setenar Paulus atau Petrus, dll. Nama keduanya hanya muncul 6 kali di seluruh Alkitab. (Kis, Roma dan 1 Kor). Mari kita berkenalan dengan kedua orang ini. Pertama adalah Akwila. Arti namanya adalah rajawali/elang.

John GillAkwila adalah nama dari Roma yang diberikan kepadanya atau nama Roma yang ia pilih sendiri. Bahasa Latinnya ”Aquila” yang artinya elang/rajawali. Nama ini dalam bahasa Ibrani, Nesher.

Ia adalah seorang Yahudi yang lahir di Pontus.

Kis 18:2 - Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. ...”

KJV - And found a certain Jew named Aquila, born in Pontus, ....”

Pontus adalah salah satu propinsi di Asia Kecil yang membentang sepanjang selatan laut hitam.

Kis 2:9 - kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, ...”

1 Pet 1:1 - Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia,...”
Kedua adalah Priskila. Priskila ini adalah isteri dari Akwila.

Kis 18:2 – “…. Akwila, yang berasal dari Pontus…. dengan Priskila, isterinya, ….”
Nama panggilannya adalah “Priska” yang berarti “kuno”.

2 Tim 4:19 - Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus.
McClintock and Strong EncyclopediaPriskila berasal dari Priska, bahasa Latin yang berarti “kuno”.

Ada kemungkinan ia berasal dari keturunan bangsawan.

Robertson’s Word Pictures - Priska adalah sebuah nama dalam keluarga Acilian dan Priski adalah nama dari kaum bangsawan lainnya. Di sini, kita mendapat gambaran bahwa kemungkinan sekali Priskila adalah keturunan bangsawan.

Mereka berdua sebelumnya tinggal di Roma tetapi karena ada masalah di sana maka kaisar Klaudius menyuruh semua orang Yahudi meninggalkan Roma, maka mereka berdua lalu pindah ke kota Korintus.

Kis 18:2 - Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. …”

Seorang ahli sejarah mengatakan bahwa kaisar Klaudius (41-54 M.) mengusir orang-orang Yahudi dari Roma, karena mereka melakukan kekacauan di bawah pimpinan seseorang yang bernama Chrestus. Ada yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan Chrestus ini pasti adalah Christos (kata Yunani untuk Kristus), tetapi ada juga yang menganggap ia adalah orang lain. Nah, rupanya di Korintus inilah mereka berkenalan dengan Paulus karena kesamaan profesi sebagai tukang kemah. Paulus lalu tinggal di rumah mereka.

Kis 18:2-3 – (2) “….Paulus singgah ke rumah mereka. (3) Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.
Itulah sekilas perkenalan kita dengan Priskila dan Akwila dan sekarang kita akan belajar hal-hal indah dari kedua orang ini. Dari data Alkitab yang sedikit tentang Priskila dan Akwila ini, kita bisa melihat minimal 3 teladan indah dalam kehidupan mereka :

I.      MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SANGAT PEDULI DENGAN PEKERJAAN TUHAN.

Jika kita mencari dalam Kis 18:1-3, kita sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun yang menunjukkan bahwa Priskila dan Akwila ini sudah Kristen atau belum. Ada yang berpendapat bahwa mereka sudah Kristen sejak dari Roma (sebelum bertemu dengan Paulus).

Wycliffe Bible CommentaryTidak jelas apakah Akwila dan Priskila sudah menjadi orang percaya sebelum mereka meninggalkan Roma. Karena tidak pernah disebutkan bahwa Paulus memberitakan Injil kepada mereka maka kemungkinan mereka sudah menjadi Kristen di Roma.  

Kalau benar bahwa mereka sudah menjadi Kristen sebelum datang ke Korintus, maka ada penafsir yang menduga bahwa Akwila menjadi Kristen karena entah dia sendiri atau orang lain yang kemudian memberitakan Yesus kepadanya, telah datang ke Yerusalem pada hari pentakosta.

Kis 2:8-9 – (8) Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: (9) kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, ...”

Tetapi ada juga yang percaya bahwa mereka baru menjadi Kristen setelah bertemu dengan Paulus (Paulus menginjili mereka). Mana pun dugaan yang benar, toh kita semua percaya bahwa Priskila dan Akwila ini adalah orang percaya/Kristen (entah sejak dari Roma, atau setelah bertemu dengan Paulus). Dan dalam kehidupan mereka sebagai orang percaya, tidak banyak hal yang dicatat tentang mereka. Tapi yang pasti, mereka kelihatannya sangat mendukung pelayanan Paulus.

Kis 18: (3) “….ia tinggal bersama-sama dengan mereka. …(4) Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. (5) …. Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias. (8) …. dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis. (11) Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.

Rasanya kondisi seperti ini (keberhasilan pelayanan Paulus) tidak mungkin terjadi kalau tidak mendapat dukungan yang cukup dari suami isteri Akwila dan Priskila ini mengingat Paulus tinggal di rumah mereka.

Dukungan mereka terhadap pelayanan Paulus juga terlihat ketika Paulus hendak meninggalkan Korintus menuju Siria, di mana mereka mau menempuh jarak yang cukup jauh ke Efesus untuk mengantar Paulus bahkan kelihatannya mereka tinggal di Efesus. Mereka memohon kepada Paulus untuk tinggal bersama mereka di Efesus tapi Paulus menolak.

Kis 18:18-20 – (18) Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, … Priskila dan Akwila menyertai dia. (19) Lalu sampailah mereka di Efesus. Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. … (20) Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya.
Jadi terlihat bahwa mereka sangat mendukung pelayanan Paulus di Korintus.

Meskipun demikian kita belum menemukan sesuatu yang cukup istimewa dalam pelayanan mereka. Hanya saja nama mereka kemudian di singgung oleh Paulus dalam salam penutup surat Roma.

Rom 16:3 - Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.

Jadi jelas secara eksplisit bahwa mereka adalah “teman-teman sekerja” Paulus dan itu berarti bahwa mereka juga turut aktif dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus.
  
Selanjutnya Paulus berkata :

Rom 16:4 - Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.
Tidak jelas ini mengacu pada peristiwa apa. Kata Yunani yang dipakai di sini “mempertaruhkan nyawa” adalah kata yang biasa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kepalanya mau dipenggal. (Walaupun di sini tidak berarti hurufiah). Ada penafsir yang menghubungkan ini dengan peristiwa yang dialami Paulus di Korintus.

Kis 18: (12) Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan. (13) Kata mereka: "Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat."  (14) …. berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: …. kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian." (16) Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan. (17) Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
Bisa jadi pada peristiwa ini nyawa Paulus terancam tapi Priskila dan Akwila melakukan sesuatu yang sangat beresiko untuk menyelamatkannya.

Ada juga yang menghubungkan ini dengan peristiwa yang terjadi di Efesus (ingat, Priskila dan Akwila menyertai Paulus sampai Efesus).

Kis 19 : (23) Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan. (24) Sebab ada seorang bernama Demetrius, …. (25) Ia mengumpulkan mereka ….dan berkata: "Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kemakmuran kita adalah hasil perusahaan ini! (26) Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa. (28) Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: "Besarlah Artemis dewi orang Efesus!" (29) Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus. (30) Paulus mau pergi ke tengah-tengah rakyat itu, tetapi murid-muridnya tidak mengizinkannya (32) Sementara itu orang yang berkumpul di dalam gedung itu berteriak-teriak; yang seorang mengatakan ini dan yang lain mengatakan itu, sebab kumpulan itu kacau-balau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu untuk apa mereka berkumpul.

Pasti di sini nyawa Paulus terancam. Bisa jadi sesuatu yang beresiko juga telah dilakukan Priskila dan Akwila di sini demi menyelamatkan Paulus hanya saja tidak dicatat.

Ada juga yang menghubungkan peristiwa ini dengan apa yang dibicarakan Paulus dalam 2 Kor 1:8-10 :

2 Kor 1:8-10 : (8) Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. (9) Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. .... (10) Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: ….
Manapun yang benar, jelas Paulus berterima kasih kepada Priskila dan Akwila ini karena mereka sudah mempertaruhkan nyawa mereka bagi Paulus. Jelas mereka bukan melakukan itu semata-mata karena Paulus tetapi karena pelayanan. Itulah sebabnya Paulus berkata :

Rom 16:4 - Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.
Th. Van den End“…dengan membantu Paulus dan terutama dengan menyelamatkan nyawanya, mereka turut memungkinkan pemberitaan Injil oleh ‘rasul bangsa-bangsa’ itu sehingga Injil dapat disampaikan kepada semua orang yang bukan Yahudi. (Tafsiran Alkitab Surat Roma, hal. 695).

Ini semakin membuktikan bagaimana pengorbanan mereka demi pelayanan pekerjaan Tuhan.

Selanjutnya ada keterangan lain tentang mereka yang diberikan oleh Paulus :

Rom 16:3-5 – (3) Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. (4) Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. … (5) Salam juga kepada jemaat di rumah mereka….

1 Kor 16:19 - Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu.
Ini berarti bahwa sepeninggalan Paulus, Priskila dan Akwila ini terus memberitakan Injil sehingga akhirnya memunculkan petobat-petobat baru yang lalu berbakti di rumah mereka. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa mereka betul-betul giat di dalam melayani Tuhan, bahkan mereka rela persembahkan rumah mereka menjadi tempat ibadah orang-orang percaya. (Ini tidak berarti bahwa mereka lalu menjadi pemimpin jemaat itu. Bisa jadi mereka hanya menyediakan tempat saja). Nah, di sinilah kita melihat teladan yang luar biasa dari Priskila dan Akwila di mana mereka adalah orang yang sangat peduli pada pekerjaan Tuhan. Kepedulian mereka pada pekerjaan Tuhan ini terasa sangat luar biasa karena mereka sampai mempertaruhkan nyawa mereka demi pelayanan. Banyak orang saat ini, demi pelayanan, jangankan nyawa. Uang saja kikirnya minta ampun, waktunya saja sukar didapat. Mereka bukanlah rasul seperti Paulus. Mereka bukan diaken yang dipilih oleh para rasul. Mereka juga bukan seorang fulltimer seperti Titus atau Timotius. Mereka hanya orang awam biasa, pengusaha tenda yang juga sibuk dengan urusan ‘duniawi’.  Tapi mereka punya beban yang luar biasa bagi pelayanan. Mereka pengusaha tetapi punya hati penginjil. Tapi ada banyak penginjil punya hati pengusaha, lalu lari tinggalkan pelayanan demi usaha. Ada banyak pekerja sekuler memiliki hati yang rohani. Sebaliknya ada banyak pekerja rohani (pendeta/penginjil, dll) memiliki hati sekuler. (Makanya ada yang jadi caleg, dll). Mereka suami isteri sama-sama giat dalam pelayanan bahkan sangat mungkin Priskila lebih giat karena namanya selalu disebutkan terlebih dahulu (sesuatu yang di luar kebiasaan). Ini indah karena ada banyak suami yang mati-matian melayani Tuhan, tetapi istri sama sekali tidak mendukung. Ada banyak isteri begitu giat melayani tapi suami, bahkan bergereja pun tidak.  Ada banyak orang sewaktu muda, giatnya bagi Tuhan luar biasa tetapi semua semangat pelayanan itu berakhir sampai pada hari pernikahan mereka. Mengapa setelah menjadi suami isteri tidak bisa sama-sama giat dalam pelayanan? Dalam pelayanan, mereka menunjukkan kesetiaan. Ini terbukti dari giatnya mereka melayani bersama Paulus di Korintus. Saat Paulus menulis surat untuk jemaat Korintus, Paulus menyampaikan salam kepada jemaat Korintus dari Priskila dan Akwila dan jemaat di rumah mereka (saat itu mereka di Efesus). Selanjutnya Paulus menulis surat kepada jemaat Roma dan menitip salam untuk mereka dan jemaat di rumah mereka (saat itu mereka sudah kembali ke Roma). Ini menunjukkan bahwa di mana saja mereka berada, semangat mereka untuk melayani tidak pernah kendor. Mereka benar-benar setia terhadap pelayanan. Ada banyak orang yang hanya “panas-panas tahi ayam” saja. Mereka hanya semangat dan setia pada satu waktu tetapi menjadi acuh tak acuh dengan pelayanan di waktu yang lain. Saya kira ini teladan yang harus kita ikuti kalau kita mau jemaat kita terus maju. Jemaat ini tidak akan maju kalau beban pelayanan hanya ada pada pendeta / evangelis / mahasiswa praktek. Gereja ini akan maju dengan pesat kalau semua kita mau aktif di dalam pelayanan : mempertaruhkan segala sesuatu yang ada pada kita, membuang pemikiran bahwa saya adalah orang awam yang hanya punya urusan dengan gereja satu minggu satu kali saja, saling mendorong agar seluruh anggota keluarga bisa melayani Tuhan (kelompok kecil, kunjungan jemaat, dll), dan jangan hanya “panas-panas tahi ayam” saja.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul, jumlah jemaat bertumbuh dengan pesat (Kis 1:26 2:41,47  4:4  5:14 6:7). Tetapi kenapa kelihatannya pada zaman sekarang tidak. Karena pada abad pertama, semua jemaat ikut memberitakan Injil, ikut melayani. Tetapi keadaan berubah! Pada sekitar tahun 1970-an seorang misionaris mengatakan bahwa statistik menunjukkan bahwa hanya 0,5 % (setengah persen) orang Kristen yang melayani dan memberitakan Injil. Ada seorang pendeta yang pernah memberikan ilustrasi sebagai berikut untuk menekankan pentingnya setiap orang kristen untuk memberitakan Injil. Ia membandingkan dua keadaan:

a.     Keadaan I adalah di mana di dunia ini hanya ada 1 orang Kristen, yang adalah seorang penginjil yang hebat, yang setiap hari bisa membawa 1000 jiwa datang kepada Tuhan. Tetapi orang-orang yang sudah bertobat itu tidak ada yang memberitakan Injil.
b.    Keadaan II adalah di mana di dunia ini hanya ada 1 orang kristen, yang setiap tahun hanya bisa membawa 1 jiwa datang kepada Tuhan. Tetapi setiap jiwa yang bertobat juga memberitakan Injil dan setiap tahun masing-masing orang mendapat 1 jiwa.

Tahun
1000 / hari
1 / tahun
1
365.000
2 = 21
2
730.000
4 = 22
3
1.095.000
8 = 23
-
-
-
-
-
-
32
11.680.000
232 = 4,3 milyar
33
12.045.000
233 = 8,6 milyar

Saudara bisa melihat bahwa dalam keadaan I, dalam 33 tahun, baru sekitar 12 juta orang yang menjadi kristen. Ini belum mencakup seluruh penduduk Jawa Timur. Tetapi dalam keadaan II, dalam 33 tahun, ada 8,6 milyar orang kristen. Ini sudah lebih dari penduduk dunia saat ini. Jadi, kalau saudara selalu membiarkan Pendeta / Penginjil saja yang memberitakan Injil, paling-paling pertumbuhan gereja / kekristenan akan menyerupai keadaan I, bahkan lebih buruk dari keadaan I. Mengapa? Karena perlu diingat, bahwa tidak ada pendeta / penginjil yang bisa mempertobatkan 1000 orang setiap hari. Bahkan Petrus, yang berhasil mempertobatkan 3.000 orang dalam satu hari (Kis 2:41), tidak setiap hari berhasil mempertobatkan 1.000 orang. Semua ini menyebabkan pertumbuhan gereja / kekristenan akan sangat lambat, atau, lebih buruk lagi, bisa menyebabkan kemunduran. Tetapi kalau setiap orang Kristen mau memberitakan Injil, kita akan seperti keadaan II. Pertumbuhan gereja / kekristenan akan cepat sekali. Maukah saudara? Milikilah hati dan semangat seperti Priskila dan Akwila ini.

II.    MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG MEMPUNYAI PENGERTIAN KITAB SUCI YANG BAIK.
 
Sebelumnya sudah saya katakan bahwa Priskila dan Akwila juga pernah tinggal di Efesus, saat mereka mengantarkan Paulus yang hendak menuju Siria. Di kota Efesus inilah pelayanan mereka cukup berkembang hingga munculnya sebuah jemaat di rumah mereka. Nah, sementara mereka berada di Efesus, terjadilah suatu peristiwa :

Kis 18:24-25 – (24) Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. (25) Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan….

Jadi sewaktu Priskila dan Akwila di Efesus, muncullah seorang pengkhotbah/pengajar yang luar biasa yang bernama Apolos. (Artinya : Penghancur). Deskripsi tentang Apolos  ini sebagai berikut :

a.     Ia berasal dari Alexandria.

Dalam khotbah Israel sudah saya jelaskan bahwa kota Alexandria adalah salah satu kota di Mesir (kota nomor dua setelah Roma) yang adalah pusat kebudayaan dan pendidikan Helenistik. Di sana ilmu pengetahuan berkembang dengan hebat, banyak sekolah didirikan di sana, bahkan ada perpustakaan yang dibangun oleh Ptolomeus (yang dibakar orang Islam), di sanalah Alkitab LXX dibuat, menurut Josephus di sana ada juga sekolah teologia yang terkenal dengan tafsiran alegorisnya. Jadi kelihatannya Apolos ini adalah alumni sekolah teologia Alexandria dan kualitas dirinya tidak diragukan.

b.     Ia fasih berbicara

Kata Yunani yang dipakai untuk “fasih” di sini adalah “LOGIOS. Ini tidak menunjuk kepada orang yang sekedar banyak berbicara tetapi pada orang yang pandai memilih kata-kata yang tepat, dan menyusunnya sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu argumentasi yang kuat. Ini adalah karunia Tuhan. Tidak semua orang punya kemampuan seperti ini.

c.     Ia mahir dalam soal-soal Kitab Suci

Yang dimaksud dengan Kitab Suci di sini tentu hanya Perjanjian Lama saja, karena pada saat itu Perjanjian Baru belum ada. Ini adalah salah satu alasan yang menyebabkan banyak orang menganggap bahwa Apolos adalah penulis surat Ibrani.

Ini luar biasa karena kefasihan ini berpadu dengan kepintarannya. Ada banyak orang yang hanya memiliki salah satunya, bahkan tidak memiliki keduanya. Tetapi Apolos memiliki keduanya.

d.     Menerima pengajaran dalam jalan Tuhan.

Kata-kata ‘jalan Tuhan’ jelas menunjuk pada kekristenan / Injil.

Kis 9:2 - “…. jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem”.

Kis 22:4 - “Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.

Ini berarti bahwa Apolos telah menerima pengajaran tentang kekristenan. Kata-kata ‘telah menerima pengajaran’ dalam bahasa Yunaninya adalah “HEN KATECHEMENOS”. Dari kata “KATECHEMENOS” inilah diturunkan kata bahasa Inggris ‘catechism’ (katekisasi / pelajaran dasar). Jadi Apolos sudah mendapatkan katekisasi / pelajaran dasar tentang kekristenan.

Jadi dapat dikatakan bahwa Apolos ini adalah seorang yang luar biasa. Karena kelebihan-kelebihan inilah membuat Apolos mendapat banyak simpatisan dan ia menjadi idola ketika ia berkunjung ke jemaat Korintus. Hal itu berpotensi mengancam kesatuan jemaat Korintus.

1 Kor 1:12 : Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.

Paulus akhirnya menetralisir keadaan itu dengan memberi nasihat pada jemaat Korintus :

1 Kor 3:4-6 : (4) Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? (5) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

Setelah sampai di Efesus, Apolos lalu mulai mengajar dan berkhotbah :

Kis 18: (25) …. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, … (26) Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. ….

Note : dengan teliti ia mengajar”  oleh RSV/NIV/NASB : ‘accurately’ (dengan akurat / tepat). ‘Dengan berani’ Ia memberitakan Injil di rumah ibadat. Ini jelas merupakan perbuatan yang mengandung resiko!

Sayangnya ada yang kurang dari pengetahuan Apolos.

Kis 18:25-26 – (25) “…. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes

Seperti dalam Mat 21:25, kata ‘baptisan Yohanes’ disini adalah suatu synecdoche (suatu gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya, atau sebaliknya), sehing­ga sebetulnya menunjuk pada seluruh pelayanan / penga­jaran Yohanes Pembaptis. Tetapi, dari kata-kata ‘ia hanya mengetahui baptisan Yohanes’, jelaslah bahwa ada sesuatu yang kurang dalam pengertian Apolos tentang dasar-dasar kekristenan / Injil. Ini tidak berarti Apolos mengajarkan ajaran sesat.

Nah, rupanya waktu Apolos berkhotbah/mengajar, suami-isteri (Akwila dan Priskila) ini hadir dan mereka dapat menangkap kekurangan dari ajaran Apolos. Lalu apa yang mereka lakukan?

Kis 18:26 - Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.

Apakah yang dimaksudkan dengan jalan Allah? Pastilah sesuatu yang kurang dari Apolos itu merupakan hal yang sangat penting (mungkin berhubungan dengan kematian atau kebangkitan Kristus), karena kalau tidak, Priskila dan Akwila tidak akan terlalu mempersoalkannya. Perhatikan bahwa sebelumnya Apolos sudah mengajar dengan teliti tapi setelah itu ia diajar dengan teliti oleh Akwila dan Priskila (katekisasi ulang). Luar biasanya adalah Apolos ini juga adalah orang yang rendah hati dan mau diajar. Akibat dari semuanya adalah :

Kis 18:27-28 – (27) Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. (28) Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.
Apolos melakukan debat terbuka dan ini berguna bagi jemaat. Di sini kita melihat bahwa pelayanan Apolos menjadi semakin berkembang dan luar biasa. Tetapi semua itu jelas ada andil Priskila dan Akwila di dalamnya. Bahwa Priskila dan Akwila mengajar Apolos, menunjukkan bahwa mereka tidak iri hati pada karunia Apolos. Ada banyak orang ketika melihat orang lain maju, bukannya mendukung malah iri hati terhadap orang tersebut. Bahkan itu terjadi dalam pelayanan. Mereka tidak merasa minder sekalipun mereka adalah orang biasa / awam. Mereka berani mengajar seorang pengkhotbah / ahli teologia seperti Apolos. Apakah kalau pengkhotbah salah, anda bisa dan berani mengajarinya? Ini juga menunjukkan bahwa Priskila dan Apolos ini kritis dalam mendengar khotbah. Kekritisan ini menyebabkan mereka melihat adanya kekurangan dalam ajaran / pengertian Apolos. Mereka jelas bukan seperti jemaat kebanyakan saat ini yang menelan mentah-mentah semua yang dikatakan pengkhotbah. Yang hanya bisa berteriak Amin, yang mendengar khotbah tidak pakai akal budinya. Pertanyaan kita sekarang adalah, bagaimana Priskila dan Apolos bisa melakukan hal itu? bagaimana mereka bisa mengetahui adanya kekurangan dalam ajaran Apolos? Bagaimana mereka bisa mengajari seorang teolog dan pengkhotbah / pembicara / pengajar hebat seperti Apolos? Jawabannya adalah karena mereka juga mempunyai pengertian Firman Tuhan yang baik dan dalam. Ini menarik karena ternyata mereka bukan rasul, tidak pernah sekolah teologia resmi seperti Apolos, tidak ada gelar teologia, tetapi pengertian mereka tentang kekristenan sangat baik. Kemungkinan besar mereka memperdalam pemahaman kekristenan mereka ini pada Paulus ketika selama 6 bulan Paulus tinggal di rumah mereka. Mereka tentu selalu ikut ketika Paulus mengajar di rumah-rumah ibadah, dan tidak mustahil bahwa mereka juga belajar dari Paulus di rumah mereka sendiri. Intinya memanfaatkan setiap kesempatan untuk bisa memperdalam pemahaman mereka tentang kebenaran. Itulah sebabnya pengertian mereka bisa melampaui seorang ahli teologia dan pengkhotbah seperti Apolos. Bagaimana dengan saudara? Apakah anda merindukan suatu kemajuan seperti Priskila dan Akwila? Ada banyak jemaat yang meskipun sudah tua jadi Kristen tetapi pengertiannya tentang Firman Tuhan begitu kacau balau. Itulah sebabnya mereka dengan mudahnya disesatkan oleh banyak pendeta penipu. (Mangapin Sibuea, Pluralisme, mujizat, Saksi Yehovah, dll). Tentu kita tidak mau seperti ini. Kita mau seperti Priskila dan Akwila. Kalau demikian maka kita perlu meluangkan waktu untuk belajar Firman Tuhan, bukan hanya pada hari minggu tetapi juga di kelas PA (Pemahaman Alkitab), kelompok kecil, seminar-seminar, buku-buku rohani yang baik, dll. Semua yang kita lakukan itu tidak akan ada manfaatnya apa-apa kalau saudara tidak mau bertekun di dalamnya. Tapi kalau saudara mau bertekun di dalamnya, saudara akan menjadi orang Kristen awam yang mempunyai pengetahuan di atas banyak orang lulusan teologia, apalagi yang tidak belajar. Adanya tambahan pengetahuan yang Priskila dan Akwila berikan bagi Apolos, ternyata mempunyai andil yang sangat besar bagi kesuksesan Apolos! Ini bisa kita teladani. Kalau saudara melihat seseorang yang mem­punyai karunia memberitakan Firman Tuhan (pengkhotbah, guru sekolah minggu dsb), tetapi yang kurang dalam pengetahuan Kitab Suci, saudara pun bisa ikut mensukseskannya dengan mengajaknya datang dalam Kebaktian / Pemahaman Alkitab, mengajarnya (kalau saudara mampu melakukannya), memberikan / meminjamkan buku, bahan khotbah / CD, membelikannya buku rohani yang bermutu, membiayainya untuk masuk sekolah teologia yang baik, dsb. Jika saudara melakukan itu maka saudara telah meneladani Priskila dan Akwila ini. Dan itu pasti berdampak bagi pertumbuhan jemaat kita. Maukah saudara?


- AMIN -