Sabtu, 21 April 2012



Khotbah Minggu, 26 Februari 2012

ORANG PERCAYA & PENCOBAAN (Part 3)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK


Mat 4:1-12 – (1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2) Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." (4) Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (5) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (7) Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (9) dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." (10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (11) Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. (12) Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.


D
alam part 1 & 2 kita sudah membahas 6 hal penting yang berkaitan dengan pencobaan di padang gurun ini : (1) kapan pencobaan ini terjadi?, (2) Siapa yang dicobai?, (3) Siapa inisiator pencobaan tersebut?, (4) Berapa kali Yesus dicobai?, (5) Mengapa Yesus harus mengalami pencobaan? Dan (6) Mungkinkah Yesus berdosa? Sekarang kita akan masuk pada inti pencobaan yang diberikan oleh setan kepada Yesus dan kita akan bahas pencobaan ini satu per satu. Hari ini kita akan bahas pencobaan yang pertama. Teks yang akan kita pelajari adalah ayat 2-4 :

Mat 4:2-4 - (2) Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." (4) Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Kita akan membahas teks ini dalam beberapa bagian :

I.       YESUS BERPUASA.

Setelah dibawa ke padang gurun oleh Roh (Mat 4:1), Yesus lalu mulai berpuasa selama empat piluh hari empat puluh malam.

Mat 4:2 - Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

Tentang bilangan 40 ini, memang sering muncul dalam Kitab Suci misalnya hujan pada zaman Nuh turun selama 40 hari 40 malam, Musa berpuasa 40 hari, Elia berpuasa 40 hari, Israel ada di padang gurun selama 40 tahun, Yesus menampakkan diri selama 40 hari, dll. Demikian juga bilangan 3,7,12 sering muncul dalam Kitab Suci. Terhadap hal ini kita harus hati-hati supaya kita tidak mempunyai kepercayaan yang bersifat takhyul tentang bilangan-bilangan ini seperti misalnya dalam perayaan hari ke-40 dari orang yang sudah mati. 1 Tim 4:7 menyuruh kita menjauhi takhyul : “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua….” Ingat bahwa kepercayaan terhadap takhyul bukanlah dosa yang remeh, karena ini menyangkut kepercayaan asing, sehingga tidak berbeda dengan syncretisme (kepercayaan terhadap 2 agama atau lebih) maupun kepercayaan terhadap berhala!

Di dalam Kitab Suci, orang lain yang pernah melakukan puasa 40 hari 40 malam adalah Musa dan Elia.

·         Musa.

Kel 34:28 - Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman.
Terlihat bahwa dalam puasa ini Musa melakukan puasa total (tidak makan dan tidak minum sama sekali). Ini hanya bisa terjadi karena mujizat Tuhan. Ingat, orang bisa tahan 40 hari tanpa makan tapi orang hanya bisa bertahan beberapa hari saja tanpa minuman.

·         Elia

1 Raj 19:8 - Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
Tidak jelas Elia puasa makan dan minum atau hanya puasa makan saja. Ada banyak penafsir yang mengatakan bahwa elia tidak makan dan tidak minum tapi saya lebih condong menganggap bahwa ia tidak makan tetapi minum. Dasarnya adalah di awal dikatakan bahwa “lalu makan dan minum” tetai selanjutnya dikatakan : “oleh kekuatan makanan itu” dan bukan “oleh kekuatan makanan dan minuman itu”.

Lalu bagaimana dengan puasanya Yesus? Nampaknya Yesus bukan puasa total (tidak makan dan tidak minum) melainkan hanya tidak makan saja tetapi tetap minum. Ini bisa dilihat dari:

·         Ayat 2 mengatakan ‘lapar’, bukan ‘haus’.

Mat 4:2 - Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

·         Ayat 3 mengatakan bahwa iblis mencobai dengan roti, bukan dengan air. Kalau Yesus juga berpuasa terhadap air, pasti setan akan mencobai dengan air, bukan dengan roti.
·         Luk 4:2 mengatakan bahwa Yesus ‘tidak makan apa-apa’.

Luk 4:2 - Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
Kalau Yesus tetap minum, lalu darimana ia mendapatkan minuman di padang gurun seperti itu? Tradisi mengatakan bahwa Ia minum air pohon kaktus yang tumbuh di padang gurun. Jadi memang ada perbedaan kecil dalam puasa Musa, Elia dan Yesus. Tetapi bagaimana pun juga bahwa mereka berpuasa selama 40 hari 40 malam lebih menonjolkan sisi kesamaannya daripada secuil perbedaannya.

Bahwa Musa, Elia dan Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam, tidaklah berarti bahwa kita juga harus berpuasa seperti itu. Mengapa? Karena ini bagian Alkitab yang bersifat descriptive / penggambaran yang hanya menceritakan apa yang terjadi tanpa bermaksud untuk menjadikan hal itu sebagai rumus / norma / hukum dalam kehidupan kita. Ini sama seperti kalau Yesus berjalan di atas air, tentu juga tidak berarti bahwa kita juga harus berjalan di atas air. Kalau Musa membelah laut Teberau tidak berarti bahwa kita pun harus melakukan hal yang sama.

Matthew Henry – Ada sebagian orang yang melakukan puasa dengan mengacu kepada puasa Kristus yang 40 hari ini, tetapi ini merupakan suatu kebodohan…” (Injil Matius 1-14, hal. 99).

Calvin juga berpandangan sama dengan Matthew Henry. Tetapi saya tidak berani mengatakan demikian karena bisa saja untuk tujuan tertentu Tuhan menyuruh seseorang untuk melakukan puasa seperti itu. Ini kasus yang jarang terjadi. Saya baru menganggap ini kebodohan kalau orang melakukan puasa seperti ini atas keinginannya sendiri. Sadhu Sundar Singh dari India pernah mencoba berpuasa selama 40 hari tetapi ia gagal bahkan hampir mati.

Hal lain yang perlu dipikirkan adalah mengapa Yesus perlu berpuasa di padang gurun itu sebelum iblis mencobai-Nya? Jelas puasa Kristus tidak boleh disamakan dengan puasa manusia di mana manusia sering melakukan puasa untuk mengekang/mematikan keinginan daging. Kristus yang tidak berdosa dan bahkan tidak mempunyai kemungkinan berdosa tidak memiliki sifat daging yang perlu dikekang/dimatikan di dalam diri-Nya. Kalau begitu untuk apa Yesus berpuasa? Saya memikirkan 3 kemungkinan :

  1. Ini ada hubungannya dengan Musa dan Elia.

Tadi sudah saya sebutkan bahwa puasa 40 hari 40 malam ini hanya pernah dilakukan oleh 3 orang yakni Musa, Elia dan Yesus. Musa dan Elia adalah 2 orang penting dalam PL yang mewakili 2 babakan wahyu Allah di mana Musa mewakili zaman Taurat dan Elia mewakili zaman para nabi. Bahwa adanya 2 babakan pewahyuan ini terlihat dari 2 ayat di bawah ini :

Mat 5:17 - “‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.

Luk 24:27 - Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Tetapi wahyu Allah belum selesai sampai pada zaman para nabi. Wahyu belum lengkap, belum sempurna, belum mencapai klimaksnya. Masih ada 1 babakan pewahyuan lagi yang terakhir, sempurna dan klimaks yakni zaman Perjanjian Baru dan yang menjadi tokoh sentral dalam pewahyuan ini adalah Yesus Kristus.

Ibr 1:1-2 – (1) Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, (2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada….”

Kalau begitu maka 3 tokoh ini (Musa, Elia dan Yesus) penting karena masing-masing mewakili 1 zaman pewahyuan. Karena itulah mereka bertiga pernah bertemu bersama di sebuah gunung.

Mat 17:3 - Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Jika demikian adalah masuk akal untuk ketiganya mendapatkan / mengalami / melakukan sejumlah hal yang sama. Musa dan Elia mempunyai pengalaman pribadi di atas gunung bersama Tuhan (Kel 31;  1Raja 19:9-18) dan adalah masuk akal bahwa Yesus dibawa ke padang gurun juga yang memang posisi geografisnya di atas gunung. Musa dan Elia pernah berpuasa 40 hari 40 malam, dan karena itu adalah masuk akal bahwa Yesus juga berpuasa 40 hari 40 malam. Jadi dengan kata lain berpuasanya Yesus selama 40 hari 40 malam ini mensejajarkan diri-Nya dengan Musa dan Elia sebagai perwakilan dari 3 zaman pewahyuan.

J.J.de Heer – “…di sini Yesus menjadi ‘Musa yang kedua’ sebab dalam Kel 34:28 diberitakan bahwa Musa, di atas gunung Sinai, tidak maka roti dan tidak minum air, 40 hari 40 malam lamanya. Barangkali Matius, dengan menekankan bahwa Yesus dibawa ke atas yaitu pegunungan (ayat 1), hendak memperlihatkan kesejajaran Yesus dan Musa. (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal. 50).  

Matthew Henry – “…Ia berpuasa 40 hari 40 malam mengikuti teladan Musa, sang pemberi hukum yang luar biasa itu, dan Elia, sang pembaru besar di zaman PL. (Injil Matius 1-14, hal. 98).

Adam Clarke – Sungguh luar biasa bahwa Musa, pemberi hukum besar bagi bangsa Yahudi, sebelum menerima hukum Allah berpuasa 40 hari di gunung; bahwa Elia, kepala dari para nabi, juga berpuasa 40 hari, dan bahwa Kristus, pemberi Perjanjian Baru, harus bertindak dengan cara yang sama.

  1. Ini ada hubungannya dengan Adam.

Yesus disebut sebagai Adam kedua / terakhir bahkan Adam adalah type dari Yesus.

1 Kor 15:45 - Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
Rom 5:14 - Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
Kedatangan Yesus ke dalam dunia ini adalah untuk menebus dosa yang dimulai dari Adam yang lalu merembet ke seluruh manusia. Adam berdosa di taman Eden. Tapi dalam soal apa Adam jatuh? Dalam soal makanan di mana ia makan buah yang dilarang oleh Tuhan. Sekarang Adam yang terakhir (Yesus Kristus) memulai pelayanan-Nya dengan dicobai oleh iblis, tetapi Ia terlebih dahulu berpuasa, pantang terhadap makanan dan lalu dicobai iblis dalam hal makanan ini (persis dengan cobaan pertama bagi Adam) dengan menyuruh-Nya mengubah batu-batu menjadi roti. Tapi Dia akhirnya menang terhadap godaan ini. Dengan kata lain Yesus berpuasa untuk memberikan kesempatan pada iblis untuk mencobai-Nya dalam urusan makanan dan lewat itu Ia membuktikan diri bahwa Ia tidak jatuh dalam dosa dalam hal makanan sebagaimana yang terjadi pada Adam pertama di taman Eden.

Matthew Henry – Manusia jatuh karena makanan, dan melalui hal itu kita pun sering jatuh dalam dosa. Itulah sebabnya Kristus tidak makan. (Injil Matius 1-14, hal. 99).

Budi Asali – Seperti Adam, Yesus dicobai dengan menggunakan makanan. Tapi perbedaannya adalah Adam dicobai di taman Eden di mana ada banyak makanan dan pada saat Adam tidak lapar; Yesus dicobai di padang gurun di mana tidak ada makanan dan pada saat Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam.

  1. Ini ada hubungan dengan bangsa Israel.

Dari sejarah bangsa Israel, kita tahu bahwa mereka mengembara di padang gurun selama 40 tahun setelah keluar dari Mesir. Selama masa pengembaraan 40 tahun itu mereka seringkali mengalami pencobaan dalam hal makanan dan mereka seringkali gagal dalam pencobaan itu. Sekarang Yesus melakukan puasa selama 40 hari supaya Ia bisa dicobai oleh iblis dalam hal makanan dan ini lalu menunjukkan kemenangan-Nya atas cobaan dalam hal makanan ini. Bahwa hubungan ini ada terlihat dari perbandingan antara Ul 8:2-3 dan Mat 4:1-2 yang menunjukkan banyak kemiripan (perhatikan warna-warna yang sama) :


Demikianlah penjelasan tentang berpuasanya Yesus di awal pencobaan yang Ia alami.
II.    COBAAN SETAN.

Teks kita berkata bahwa setelah berpuasa 40 hari, Yesus lalu merasa lapar.

Mat 4:2 - Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

Ayat ini memberi kesan bahwa Yesus baru merasa lapar setelah 40 hari. Apakah ini aneh / salah? Sebetulnya tidak aneh ataupun salah! Seorang yang bernama Arthur Wallis, dalam bukunya yang berjudul ‘God’s Chosen Fast’ (Puasa Pilihan Allah), hal 77-78 menjelaskan akan adanya 3 tahap yang akan dialami seseorang kalau melakukan puasa jangka panjang :
·         Tahap I yang berlangsung sekitar 2-3 hari (lamanya tahap-tahap ini bisa berbeda untuk tiap orang), di mana orangnya merasa sangat lapar.
·         Tahap II yang juga berlangsung sekitar 2-3 hari, di mana orangnya tidak lagi merasa terlalu lapar, tetapi merasa badannya lemas, pusing dan malas untuk bergerak. Ini adalah bagian yang terberat dalam melakukan puasa jangka panjang.
·         Tahap III. Pada tahap ini orang yang tadinya lemas itu mulai pulih kekuatannya, dan ia tidak lapar lagi. Pada tahap ini orangnya merasa bahwa ia bisa puasa terus tanpa problem. Tetapi kalau puasa ini diteruskan, maka pada saat tertentu, rasa lapar tahu-tahu muncul lagi dengan sangat hebatnya. Ini menunjukkan bahwa lemak tubuh sudah habis, dan kalau puasa itu tetap diteruskan, ini menjurus pada starvation (mati kelaparan). Lamanya tahap III ini tentu saja sangat berbeda untuk setiap orang, dan sangat tergantung pada gemuk / kurusnya orang yang berpuasa. Orang gemuk, karena cadangan lemak yang banyak, bisa bertahan lebih dari 40 hari, sedangkan orang kurus mungkin hanya bertahan 20 hari.

Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa Yesus sudah sampai pada akhir dari tahap III, dan karena itu tidak aneh / tidak salah kalau dikatakan bahwa : ‘setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Yesus’. Nah, dalam kondisi lapar yang semacam inilah muncullah iblis dan mencobai Yesus.

Mat 4:3 - Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."

Kitab Suci tidak menjelaskan bagaimana caranya iblis memberikan pencobaan ini kepada Yesus. Apakah ia menampakkan diri? Atau hanya memperdengarkan suara saja? Kalau ia menampakkan diri, apakah ia muncul berbentuk ular, atau manusia, atau malaikat? Ini tidak dijelaskan! Tetapi yang jelas adalah pencobaan ini bukannya muncul dalam pikiran / hati Yesus, karena kalau itu terjadi, maka Ia sudah berdosa. Dari pencobaan yang dilakukan setan ini, ada 2 hal yang akan saya bahas :

  1. Pencobaan ini menunjukkan betapa cerdiknya setan.

Kecerdikkan iblis nampak lewat beberapa fakta :

1)      Ia muncul seolah-olah dengan niat yang sangat baik.

Ingat bahwa Yesus ada dalam kondisi lapar yang sangat hebat dan sesuai dengan keterangan dari Arthur Wallis di atas, jika pada tahap ini tidak makan maka itu sama dengan bunuh diri. Kalau saudara ada dalam kondisi demikian lalu muncul seseorang yang menawarkan makanan pada saudara, apakah saudara akan anggap orang itu orang jahat atau orang baik? Sudah tentu kebanyakan kita akan menganggapnya sebagai orang baik. Di sini setan muncul dengan tawarannya yang seolah-olah sangat baik dan bersifat menolong Yesus dari bahaya kematian karena kelaparan. Hal yang sama terjadi di taman Eden di mana dia muncul seolah-olah sebagai orang yang baik yang akan menolong Adam dan Hawa dari ketidakbaikan Tuhan Allah karena Tuhan Allah tidak mau mereka makan buah terlarang yang akan membuat mereka menjadi sama seperti Tuhan Allah. Di sinilah kelicikan iblis. Alkitab berkata bahwa iblis dapat menyamar sebagai malaikat terang.

2 Kor 11:14 - Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.
Matthew Henry – Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang, dan itulah yang dilakukannya sekarang dengan berpura-pura menjadi malaikat penolong yang cerdas dan baik. (Injil Matius 1-14, hal. 100).

Karena itu kita harus berhati-hati karena seringkali iblis menyerang kita melalui orang-orang yang kelihatannya memberikan solusi yang baik bagi persoalan kita padahal solusi itu justru menjatuhkan kita dalam dosa.

2)      Ia memberikan tawaran yang sangat cocok dengan situasi dan kondisi saat itu.

Situasi dan kondisi yang bagaimana? Dia menyuruh mengubah batu-batu menjadi roti dan ini sangat menarik karena batu-batu di padang gurun pada saat itu memang mirip dengan roti orang Yahudi.

J.J.de Heer – Iblis menunjuk kepada batu-batu yang terserak di padang gurun itu. Batu-batu itu bentuknya bundar dan kuning warnanya, menyerupai roti yang adalah makanan pokok orang Yahudi. (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal. 52).  

William Barclay – Padang gurun biasanya dipenuhi oleh batu-batu kecil yang bentuknya menyerupai potongan-potongan roti. Kenyataan inilah yang mendorong munculnya pencobaan. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Matius 1-10, hal. 110).

Bandingkan :

Mat 7:9 - Siapakah di antara kamu, jikalau anaknya meminta roti, memberi batu kepadanya?
Dia menyuruh Yesus mengubah batu-batu menjadi roti karena memang pada saat itu tidak ada kemungkinan yang lain untuk mendapatkan roti di padang gurun seperti itu.

Budi Asali – Pencobaan untuk membuat batu menjadi roti ini sangat logis, karena saat itu Yesus membutuhkan roti, tetapi tidak ada roti, dan tidak bisa membeli roti ataupun membuat roti dengan cara biasa. Hati-hati dengan godaan yang logis! Misalnya : istrimu sudah jelek dan tidak memuaskan kamu, dan kamu sebagai orang laki-laki mempunyai nafsu seks yang harus disalurkan. Kalau ditahan terus nanti bisa stress / gila! Jadi, carilah wanita lain / pelacur yang bisa memuaskan kamu.

Dia tahu bahwa Yesus lapar dan dia tidak menawarkan hal yang lain. Dia tahu bahwa yang paling dibutuhkan oleh orang lapar adalah makanan/roti. Karena itu ia segera mencobai Yesus untuk mengubah batu-batu menjadi roti. Sesuai dengan tahapan puasa yang diungkapkan oleh Arthur Wallis di atas berarti Yesus juga sudah merasa lapar pada tahap I, tetapi pada saat itu iblis masih menahan pencobaannya karena kelaparan pada saat itu belumlah kritis. Ia baru mencobai Yesus pada kelaparan tahap III, dan ini adalah kelaparan yang kritis yang apabila tidak segera makan akan mati. Dari sini kita bisa lihat bahwa setan menyerang titik lemah Yesus. Dan ini juga yang sering ia lakukan pada manusia. Setan tahu titik lemah kita dan setan selalu berusaha menyerang titik lemah kita.  Misalnya:
~        Saudara lemah dalam persoalan seks. Maka setan bukan hanya akan menyerang titik lemah itu, tetapi juga menyerangnya pada saat yang tepat, misalnya pada waktu saudara sedang bertengkar dengan istri saudara.
~        Saudara adalah seorang yang tamak. Maka setan terus akan memanfaatkan titik lemah itu, dan ia mungkin sekali bahkan akan memberikan saudara kesempatan bisnis yang saatnya bertepatan dengan kebaktian / Pemahaman Alkitab. Ini sekaligus akan memberikan serangan dobel kepada saudara.
~        Saudara adalah seorang pemarah. Maka setan akan memberikan banyak orang / hal yang menjengkelkan saudara, dan itu mungkin sekali diberikannya pada saat yang tepat, yaitu pada saat saudara memang sudah sumpek. Ini membuat saudara meledak dalam kemarahan!
~        Anak saudara sedang sakit berat dan hampir mati, dan lalu ada orang yang cerita tentang dukun yang hebat.
~        Saudara sedang malas untuk kebaktian, ada teman datang dan mengajak piknik.
~        Saudara sedang sangat butuh uang, lalu ada kesempatan untuk korupsi/mencuri.
~        dll.

Karena itu kita harus tahu titik lemah kita, dan selalu waspada dalam hal itu dan setiap hari membentenginya dengan doa.

3)      Ia mengawali pencobaannya dengan kata-kata “jika engkau Anak Allah”.

Mengapa iblis mengatakan kalimat ini? Ini jelas ada hubungannya dengan pengalaman saat Yesus dibaptis di mana ada suara Bapa : “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi…” dan karena itu maka iblis (yang rupanya mendengar hal itu) memakai hal itu dalam serangannya terhadap Yesus. Bandingkan 2 ayat ini :


  
Kata “Jika” dalam Mat 4:3 ini memakai kata bahasa Yunani “EI”.



 

Kata “EI” ini bisa diterjemahkan “if / jika” dan bisa juga diterjemahkan “since / karena”. Jadi bunyi ayat itu bisa saja seperti terjemahan LAI : "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tapi bisa juga : "Karena Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." 2 kemungkinan ini akan saya jelaskan nanti tapi di sini kita bisa melihat kecerdikan setan di dalam meramu pencobaannya dengan mengaitkan kata-kata Bapa sewaktu Yesus dibaptis dengan pencobaan yang diarahkan pada Yesus.

4)      Ia tahu bahwa Yesus mempunyai kemampuan untuk mengubah batu-batu menjadi roti.

Setan tidak mungkin menyuruh Yesus mengubah batu-batu menjadi roti apabila Yesus memang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan hal itu. Justru karena Yesus mampu untuk mengubah batu-batu menjadi roti itulah maka Ia dicobai dengan untuk mempergunakan kemampuan-Nya itu.

Tyndale - Bahwa hal-hal itu adalah pencobaan, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Yesus tahu bahwa Ia mempunyai kuasa yang luar biasa. ‘Bukanlah pencobaan bagi kita untuk mengubah batu menjadi roti atau untuk meloncat dari bubungan Bait Suci’.

Dari sini bisa juga ditarik kesimpulan bahwa makin besar kuasa / kekuatan yang ada pada kita, makin banyak pencobaan yang bisa disodorkan oleh setan kepada kita! Misalnya :
~        Orang miskin tidak akan merasakan jalan-jalan ke tempat-tempat rekreasi yang bagus pada hari Minggu sebagai suatu pencobaan, karena itu sama sekali di luar kemampuannya, tetapi bagi orang kaya hal itu merupakan godaan.
~        Orang miskin tidak akan merasakan godaan untuk membeli barang-barang mewah tanpa ada perlunya karena hal itu tidak mungkin baginya tapi bagi orang kaya itu adalah satu pencobaan.
~        dll

Karena itu, makin saudara kaya / berkuasa, makin saudara harus mendekatkan diri kepada Tuhan dan belajar Firman Tuhan, supaya saudara kuat menghadapi pencobaan yang semakin banyak itu.

  1. Maksud sesungguhnya dari cobaan setan ini.

Sekarang kita perlu singkapkan apa sebenarnya tujuan setan dibalik pencobaan untuk mengubah batu-batu menjadi roti.

1)      Melalui pencobaan ini, setan berusaha mengalihkan Yesus dari perkara rohani kepada perkara jasmani.

Yesus sementara berpuasa dan ini adalah urusan rohani. Tetapi setan lalu datang menggoda Dia dengan roti yang adalaah urusan jasmani. Dengan kata lain setan sementara berusaha mengalihkan perhatian Yesus dari perkara rohani kepada perkara jasmani. Hal semacam ini seringkali dilakukan setan terhadap anak-anak Tuhan sehingga ada banyak anak Tuhan yang lalu lebih memilih urusan-urusan jasmani daripada urusan rohani.
~        Lebih memilih nonton TV daripada berdoa.
~        Lebih memilih jalan-jalan, shoping, nonton, dll daripada ikut kelas PA.
~        Lebih memilih ikut acar pesta daripada kebaktian.
~        Lebih suka membaca koran / majalah / FB daripada Alkitab.
~        dll

Kalau saudara digoda oleh setan dengan mengarahkan diri saudara pada hal-hal jasmani, ingatlah kata-kata Paulus berikut ini :

2 Kor 4:18 - Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal”.

2)      Melalui pencobaan ini, setan berusaha agar Yesus kehilangan kepercayaan kepada Bapa-Nya dan mencari solusi bagi persoalan-Nya sendiri.

Tujuan setan ini terkait dengan kata-kata “Jika Engkau Anak Allah”. Dan tadi sudah saya jelaskan bahwa iblis menggunakan kata-kata ini karena sebelumnya dalam peristiwa pembaptisan Yesus, Bapa berkata “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi….”. Lalu apa maksud iblis sebenarnya dengan pencobaan ini? Ia bermaksud untuk membuat Yesus ragu terhadap status-Nya sebagai Anak Allah atau meragukan kata-kata Bapa-Nya. Maksudnya adalah kalau memang benar Allah adalah Bapa-Mu atau Engkau adalah Anak Allah, mengapa Allah Bapa bisa membiarkan Engkau dalam keadaan kelaparan semacam ini? Engkau bukan Anak Allah atau mungkin benar Engkau adalah Anak Allah tetapi Allah adalah Bapa yang tidak baik yang tidak peduli terhadap kesulitan-Mu. Daripada berharap pada-Nya, atasilah persoalan-Mu sendiri dengan mengubah batu-batu ini menjadi roti. Toh Engkau sanggup melakukannya tanpa bantuan Bapa-Mu. Dari sini terlihat bahwa iblis sementara berusaha untuk memutuskan hubungan Yesus dengan Bapa-Nya dan dengan demikian Yesus tidak perlu bergantung lagi pada Bapa-Nya dan lalu berusaha untuk mengatasi persoalan-Nya sendiri (kelaparan) dengan menggunakan kuasa yang ada pada-Nya. Inilah tujuan setan sebenarnya. Dan pencobaan semacam ini masih terus dilakukan iblis hingga hari ini. Ada banyak anak Tuhan yang berada dalam persoalan yang berat (sakit penyakit, kemiskinan/kekurangan, problem studi/pekerjaan, problem rumah tangga, dll). Mereka berdoa dan berdoa tetapi kelihatannya tidak ada pertolongan dari Allah dan setan lalu menggoda mereka untuk tidak lagi percaya kepada Allah dan berusaha mengatasi persoalan mereka dengan cara mereka sendiri.

Budi Asali - Pencobaan ini bertujuan supaya Yesus tidak mempercayakan diri kepada Bapa-Nya, tetapi menangani persoalan lapar itu dengan cara yang tidak halal yaitu dengan menggunakan keilahian-Nya. Mengapa itu tidak halal? Karena pada waktu hidup di dunia sebagai manusia Yesus tidak pernah menggunakan keilahian-Nya untuk kepentingan-Nya sendiri. Kalau Ia selalu menggunakan keilahian-Nya untuk kepentingan-Nya sendiri, maka Ia tidak akan bisa menderita bagi kita.

Perhatikanlah, bukankah ada banyak anak Tuhan yang jatuh dalam pencobaan semacam ini? Kita harus selalu berhati-hati untuk tidak mencari solusi bagi persoalan kita sendiri dengan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Matthew Henry – Ketika Yesus mulai lapar, lebih-lebih di padang gurun di mana tidak ada yang bisa dimakan, iblis pun melancarkan serangannya. Perhatikanlah, kekurangan dan kemiskinan merupakan godaan besar yang membuat orang menjadi tidak puas diri dan tidak mempercayai Tuhan, dan akan menggunakan cara-cara yang tidak halal untuk memenuhi kebutuhannya… kemiskinan  itu merupakan suatu pencobaan… Oleh sebab itu mereka yang kekurangan perlu melipatgandakan kewaspadaannya. Lebih baik mati kelaparan daripada hidup makmur dalam dosa. (Injil Matius 1-14, hal. 101).

Budi Asali - Setan juga selalu menyerang kita supaya kita tidak mempercayakan diri kita kepada Allah, tetapi menangani sendiri dengan menggunakan cara yang tidak halal (mencuri, korupsi, nyogok, berdusta, pergi ke dukun dsb).

J.J.de Heer – Menjadikan roti, sebelum tiba saatnya oleh Yesus dirasakan sebagai mau terlalu cepat “keluar dari kesulitan”, menempuh jalan sendiri dan kurang percaya kepada Bapa-Nya di sorga. Pencobaan yang Yesus alami kita alami juga. Adalah sangat berbahaya bahwa kita menjadi kurang sabar. Apabila kita berdoa, kita kadang-kadang seakan mau memaksa Tuhan untuk bertindak cepat. Kita kadang-kadang melupakan bahwa Tuhan, juga kalau Ia hendak membukakan suatu jalan keluar dari kesukaran-kesukaran kita, memakai jalan serta waktu-Nya sendiri. Untuk itu kita harus sabar menunggu pertolongan, seperti yang Yesus lakukan di padang gurun. (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal. 53).  

Dalam hal ini kita perlu meneladani Zadrakh, Mesakh dan Abednego yang berprinsip bahwa seadainya Allah tidak menolong mereka sekalipun, mereka tidak akan mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran.

Dan 3:17-18 – (17) - Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; (18) tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

3)      Melalui pencobaan ini, setan berusaha agar Yesus memanfaatkan status serta kuasa-Nya untuk mencari kepentingan diri sendiri.

Ini terkait dengan kata-kata : “Jika Engkau Anak Allah”. Tadi sudah saya jelaskan bahwa kata Yunani “EI” di sini bisa diartikan “karena” sehingga ayat itu bisa diterjemahkan ““Karena Engkau Anak Allah”. Jika demikian maka pencobaan ini bukan bertujuan untuk membuat Yesus ragu akan status-Nya sebagai Anak Allah atau meragukan Bapa-Nya tetapi untuk memanfaatkan status-Nya sebagai Anak Allah itu dan kuasa-Nya untuk memenuhi kebutuhan/kepentingan-Nya sendiri. Dan cobaan seperti ini jugalah yang sering dilakukan iblis kepada anak-anak Tuhan.

William Barclay – Kita selalu dicoba untuk memakai kekuatan dan kekuasaan yang diberikan Tuhan kepada kita bagi kepentingan diri kita sendiri. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Matius 1-10, hal. 110).

Barclay lalu memberikan contoh :

William Barclay – Seseorang mungkin mempunyai suara yang baik. Tetapi ia bisa mengkomersialkan suaranya itu, sehingga bisa menolak mengeluarkan suaranya itu kecuali jika dibayar. Sebenarnya tidak ada alasan apapun untuk membayar suaranya itu. Tetapi yang empunya suara itu bisa menemukan  berbagai alasan, agar orang yang mendengarkan suaranya harus membayar. Setiap orang mempunyai kecakapan tertentu pasti mendapat pencobaan untuk memakai kecakapan tersebut bagi kepentingan dirinya sendiri, meskipun kecakapan itu adalah pemberian Tuhan. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Matius 1-10, hal. 110).

Adalah tidak salah kalau kecakapan-kecakapan kita dihargai dengan bayaran tetapi janganlah itu menjadi motivasi kita di dalam menggunakan kecakapan-kecakapan itu.

III. JAWABAN YESUS.

Lalu bagaimana jawaban Yesus terhadap serangan setan ini?

Mat 4:4 - Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Yang dimaksudkan dengan “ada tertulis” di dalam ayat tersebut adalah ada tertulis dalam Firman Tuhan (PL). Dan memang kata-kata ini Yesus kutip dari Ul 8:3 :

Ul 8:3 – “…manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.
Di sini kita melihat bahwa dalam menghadapi serangan setan, Yesus mengandalkan Firman Allah. Mengapa? Karena Firman Allah itu adalah senjata / pedang roh (Efs 6:17). Melalui ini Yesus memberikan teladan bagi kita bahwa di dalam menghadapi serangan setan, kita harus berpegang teguh dan mengandalkan Firman Allah. 

Matthew Henry – Kita harus menggunakan cara ini setiap kali kita dicobai untuk berdosa. Lawanlah dan tolaklah pencobaan itu dengan “Ada tertulis”. Firman Allah adlaah pedang roh, satu-satunya senjata untuk menyerang dari seluruh perlengkapan senjata Kristen (Efs 6:17). (Injil Matius 1-14, hal. 105).

Karena itu hendaklah kita rajin belajar Firman Tuhan (misalnya lewat kelas PA) supaya bisa menggunakan Firman Tuhan untuk menangkis serangan setan. Tanpa Firman Tuhan kita sukar untuk bertahan terhadap serangan setan. Sekarang mari perhatikan bunyi Firman yang dikutip Yesus ini :

  1. ‘Manusia hidup bukan dari roti saja’.

Kata ‘saja’ dalam jawaban Yesus itu perlu diperhatikan. Yesus tidak berkata : ‘Manusia hidup bukan dari roti’. Tetapi Yesus berkata : ‘Manusia hidup tidak dari roti saja’. Ini menunjukkan bahwa hal jasmani juga penting dan tidak bisa diabaikan secara total, tetapi kita tidak boleh menekankan hal jasmani saja (bdk. 1Tim 4:8).

  1. ‘tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah’.

Ada yang mengartikan ‘firman yang keluar dari mulut Allah’ sebagai pengajaran Kitab Suci sehingga arti kalimat ini adalah karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, maka manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi juga dari Firman Allah / pengajaran Kitab Suci. Kelihatannya tafsiran semacam ini tidak tepat karena tidak cocok dengan konteks Mat 4:3-4 di mana setan menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti, dan Yesus menjawab manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari pengajaran Kitab Suci. Ini rasanya jadi kacau. Calvin dan para penafsir yang lain beranggapan bahwa kata-kata ini menunjuk pada ‘kehendak Allah’. Jadi maksud Yesus adalah sekalipun tidak ada roti, kalau Allah menghendaki Ia hidup, Ia akan hidup.  Penaf­siran ini lebih cocok dengan konteks Luk 4:3-4 maupun Ul 8:3 dari mana ayat ini dikutip :

Ul 8:3 - Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.
Dari ayat ini terlihat bahwa bangsa Israel di padang gurun tidak memperoleh roti tetapi Allah bisa membuat mereka hidup dengan cara memberikan manna kepada mereka.

Ini yang harus kita camkan dengan baik-baik. Allah itu penuh kuasa, Ia menopang segala sesuatu dengan firman-Nya (Ibr 1:3) sehingga kalau Ia mau, Ia bisa membuat kita hidup tanpa roti. Tetapi sebagaimana Ia dengan cara yang ajaib memberi makan kepada bangsa Israel di padang gurun, Ia juga dengan cara-cara yang ajaib bisa memelihara hidup kita. Karena itu dalam keadaan terjepit / krisis yang bagaimanapun hebatnya, yang mengancam nyawa sekalipun, ingatlah bahwa hidup / mati saudara tergantung kehendak Tuhan.

Dari jawaban Yesus ini terlihat bahwa Yesus sangat percaya kepada Bapa-Nya. Ia tidak mau menggunakan keilahian-Nya / cara yang tidak halal, dan Ia percaya Bapa-Nya akan memelihara-­Nya. Karena Kristus tidak mau mendapatkan roti dengan cara tidak halal, akhirnya kita melihat bahwa malaikat-malaikat datang melayani Dia.

Mat 4:11 - Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Marilah kita meniru Yesus dalam hal ini; jangan mencari makan / uang dengan cara yang tidak halal, seperti menggunakan tipu daya, dusta, menyuap, dsb. Atau dengan cara bekerja pada hari Sabat (Kel 20:8-11). Maka Tuhan pasti akan mencukupi kebutuhan saudara.


- AMIN -

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK


Kej 4:1-5 – (1) Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." (2) Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. (3) Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, (5) tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.


K
isah Kain dan Habel adalah kisah yang sudah sangat terkenal. Manusia pertama Adam dan Hawa dikatakan melahirkan 2 orang anak yakni Kain dan Habel. Lalu Kain membunuh Habel berarti manusia hanya tinggal 3 orang di dunia saat itu yakni Adam, Hawa dan Kain. Kalau demikian maka kisah ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan yakni Kain mendapatkan isteri darimana?

Kej 4:17 - Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; ….”
Juga, setelah membunuh Habel, Kain takut pada siapa?

Kej 4:14 - Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku."

Atau apakah mungkin Kain tidak tahu bahwa manusia hanya tinggal 3 orang? Persoalannya Allah juga secara implisit mendukung kata-kata Kain :

Kej 4:15 - Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." …”

Terhadap 2 pertanyaan pertama, Agus Miradi memberikan jawaban dalam bukunya “Siapakah Manusia Pertama itu? bahwa manusia yang dibicarakan dalam Kejadian 1 dan Kejadian 2 itu berbeda. Dia mengatakan bahwa di Kejadian 1, manusia laki-laki dan perempuan diciptakan sekaligus.



Kej 1:27 - Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Sedangkan dalam Kejadian 2 manusia laki-laki dibentuk dari tanah, dihembuskan nafas ke dalam hidungnya. Setelah itu perempuan dibentuk dari tulang rusuk laki-laki.

Kej 2:7,21,22 – (7) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (21) Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. (22) Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Jadi laki-laki dan perempuan tidak diciptakan segera dan bersamaan.

Selanjutnya dalam Kejadian 1, manusia itu tidak ada nama. Tapi dalam Kejadian 2, manusia itu diberi nama yakni Adam dan Hawa. Jadi kesimpulannya Adam adalah manusia di Kejadian 2 sedangkan manusia di Kejadian 1 bukan Adam melainkan sepasang manusia purba. Sepasang manusia purba ini sudah berkembang biak dan cukup banyak pada saat Adam hidup. Jadi yang ditakuti oleh Kain itu adalah keturunan manusia purba ini dan Kain mendapatkan isteri dari salah seorang keturunan manusia purba itu. 

Walaupun apa yang dikatakan Agus Miradi ini menarik tetapi ini tetap salah. Tanggapan saya untuk teori Agus Miradi ini sebagai berikut :

1.      Kalau teori Miradi betul maka Adam bukanlah manusia pertama. Tapi persoalannya Alkitab mengatakan secara eksplisit bahwa Adam adalah manusia pertama.

1 Kor 15:45 - Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
2.      Adalah tidak benar bahwa dalam Kejadian 1 manusianya tidak diberi nama sedangkan manusia manusia di Kejadian 2 baru diberi nama Adam dan Hawa. Yang benar adalah dalam Kejadian 1 & 2 nama Adam dan Hawa sama sekali tidak muncul.

Nama Hawa muncul pertama kali dalam pasal 3:20 sedangkan nama Adam muncul pertama kali dalam pasal 4:25.

Kej 3:20 - Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Kej 4:25 - Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set,…”

3.      Adanya perbedaan cerita penciptaan manusia dalam Kejadian 1 & 2 tidak berarti bahwa manusia dalam Kejadian 1 berbeda dengan manusia dalam Kejadian 2. Itu adalah cara berpikir dan gaya tulis orang Ibrani yakni memulai dari hal yang umum/kesimpulan lalu menyusul pada penjelasan/detail-detailnya. (Ini terbalik dengan kita yang selalu mulai dengan detail dan menyusul kesimpulan).

Misalnya kalau kita mau menceritakan bahwa kita sakit, kita akan bercerita demikian : “Hari senin saya ke Soe, selasa ke Dili, rabu kembali ke Soe, kamis ke Kupang, jumat ke Rote, sabtu kembali kupang. Akhirnya saya jatuh sakit”. Tetapi kalau orang Ibrani yang bercerita maka ia akan bercerita demikian : “Saya jatuh sakit. Hari senin saya ke Soe, selasa ke Dili, rabu kembali ke Soe, kamis ke Kupang, jumat ke Rote, sabtu kembali kupang”.  Cara berpikir semacam ini yang nampak dalam kitab Kejadian 1:1 : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” yang adalah kesimpulannya setelah itu baru disusul dengan cerita penciptaan per hari. Demikian juga dengan penciptaan manusia di mana cerita dalam Kejadian 1 bahwa Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan adalah kesimpulannya. Tetapi bagaimana proses penciptaan itu baru dijelaskan dalam pasal 2 yakni manusia laki-laki dibentuk dari debu tanah dan manusia perempuan dibentuk dari tulang rusuk laki-laki. Jadi manusianya tetap sama hanya cara penceritannya yang berbeda.

Jadi teori Agus Miradi ini salah total! Adam tetap adalah manusia pertama.

Nah, kalau Adam tetap adalah manusia pertama, lalu bagaimana dengan masalah kita? Kain takut pada siapa dan darimana Kain mendapatkan isteri? Memang akan sukar menjawab pertanyaan ini kalau kita hanya berpikir bahwa Adam Hawa hanya mempunyai 2 orang anak yakni Kain dan Habel. Tidak! Mereka mempunyai anak yang banyak, laki-laki dan perempuan.

Kej 5:4 - Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.
Karena itu boleh dipastikan bahwa Kain mengawini salah seorang saudara kandungnya. Ini tidak terhindarkan! Apakah ini dosa berdasarkan Im 18:9?

Im 18:9 - Mengenai aurat saudaramu perempuan, anak ayahmu atau anak ibumu, baik yang lahir di rumah ayahmu maupun yang lahir di luar, janganlah kausingkapkan auratnya.

BIS : Jangan bersetubuh dengan saudaramu perempuan atau saudara tirimu, baik yang dibesarkan serumah dengan engkau maupun yang dibesarkan di rumah lain

Tidak! Karena pada zaman Kain, peraturan ini belum keluar. Misalnya Abraham mengawini Sara yang adalah saudaranya sendiri.

Kej 20:12 - Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.

Ini tentu menyalahi Im 18:11 :

Im 18:11 - Mengenai aurat anak perempuan dari seorang isteri ayahmu, yang lahir pada ayahmu sendiri, janganlah kausingkapkan auratnya, karena ia saudaramu perempuan.

BIS : Jangan bersetubuh dengan saudaramu perempuan yang seayah lain ibu atau seibu lain ayah, karena dia saudaramu juga.

Tetapi sama sekali Tuhan tidak menyalahkan Abraham karena memang pada zaman Abraham peraturan tersebut belum keluar.

Jadi sama sekali tidak dosa jika Kain kawin dengan saudara perempuannya. Ini tidak boleh terjadi sekarang karena larangannya sudah keluar di Im 18 dan juga perkawinan antar saudara dekat akan mengakibatkan kecacatan mental. Selanjutnya Alkitab juga tidak menceritakan pada umur berapa Kain membunuh Habel dan apakah pada saat dibunuh Habel sudah kawin atau belum. Bisa jadi Habel sudah mempunyai isteri dan anak-anak juga sehingga Kain lalu takut terhadap pembalasan dendam dari isteri dan anak-anak Habel. Jadi selesailah masalahnya!

Kita tinggalkan dulu persoalan-persoalan ini, dan sekarang mari kita membahas tema kita yakni “IBADAH YANG DITERIMA ALLAH”. Teks kita menceritakan tentang persembahan yang diberikan oleh Kain dan Habel.

Kej 4:3-4 - (3) “…maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya

Membawa korban persembahan kepada Tuhan di dalam PL adalah sama dengan beribadah. Jadi di sini kita boleh katakan bahwa Kain dan Habel sama-sama beribadah kepada Tuhan. Tetapi lalu diceritakan bahwa persembahan/ibadah Habel diterima sedangkan persembahan/ibadah Kain ditolak oleh Tuhan.

Kej 4:4-5 - (4) “… maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, (5) tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya.

Tentang darimana mereka tahu persembahan mereka diterima dan ditolak tidak dijelaskan. Guru Sekolah Minggu mengajarkan bahwa asap persembahan Habel lurus ke atas sedangkan asap persembahannya Kain naik secara bengkok. Tetapi jelas Alkitab tidak menjelaskan masalah ini. Mungkin mereka mengetahuinya dari kehidupan selanjutnya di mana Tuhan memberkati pekerjaan Habel tetapi tidak memberkati pekerjaan Kain.

Bahwa Tuhan menolak persembahan Kain dan menerima persembahan Habel mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak selamanya mau menerima seadanya ibadah dari setiap orang. Kisah Kain dan Habel menyatakan kepada kita bahwa ada ibadah yang diterima Tuhan dan ada ibadah yang ditolak Tuhan. Jadi belum tentu sewaktu saudara beribadah, Tuhan menerima ibadah saudara. Dia bisa saja menerima tetapi bisa juga menolak ibadah saudara! Termasuk dalam ibadah saat ini! Kalau begitu sekarang kita bertanya, mengapa Tuhan menerima persembahan/ibadah Habel tetapi menolak persembahan/ibadah Kain? Ada beberapa penafsiran :


a.      Karena dikatakan bahwa Kain memberikan persembahan hanya sebagian saja.

Kej 4:3 - Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan...

Keberatan :

1.      Kata-kata “sebagian” dalam ayat ini tidak ada dalam bahasa aslinya.

Bandingkan dengan beberapa terjemahan di bawah ini :

KJV - And in process of time it came to pass, that Cain brought of the fruit of the ground an offering unto the LORD.

BBE - And after a time, Cain gave to the Lord an offering of the fruits of the earth.
DRB - And it came to pass after many days, that Cain offered, of the fruits of the earth, gifts to the Lord.

2.      Habel juga tidak dikatakan memberikan seluruh hasilnya.

Kej 4:4 - Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya;…”

3.      Tuhan tidak pernah melihat jumlah persembahan sebagai ukuran (Band. Janda miskin di Luk 21). Kecuali kalau memang orangnya karena kikir lalu memberikan hanya sedikit padahal uangnya banyak.

Jadi rasanya bukan ini alasannya Tuhan menolak persembahan Kain.

b.      Karena korban Kain adalah korban yang tidak berdarah sedangkan korban Habel adalah korban yang berdarah.

Kej 4:3-4 - (3) “…maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.

John F. Walvoord - Kenyataan bahwa persembahan Habel diterima karena dipersembahkan dengan iman (Ibr 11:4) tidaklah membuang sifatnya yang penting. Karena Habel percaya pada penyataan Allah mengenai korban-korban, maka ia mempersembahkan korban domba yang bertentangan dengan korban Kain yang tak berdarah. Oleh karena itu Habel merupakan tipe dari Kristus dalam hidupnya sebagai gembala, dalam persembahannya dan dalam kematianya. (Yesus Kristus Tuhan Kita, hal. 56).

William Barclay - Tidak ada petunjuk mengapa Allah lebih mengindahkan korban Habel daripada korban Kain. Mungkin saja bahwa satu-satunya korban yang dapat dipersembahkan manusia kepada Allah ialah miliknya yang paling berharga. Dan milik yang paling berharga itu ialah hidupnya sendiri; dan bagi bangsa Ibrani, darah senantiasa berarti hidup. Kita dapat memahami hal itu sebab jika darah dicurahkan keluar, maka kehidupan akan binasa. Atas dasar itu maka satu-satunya korban yang benar kepada Allah adalah korban darah. Korban Habel adalah makhluk hidup, sedangkan korban Kain bukan; maka dari itu korban Habel lebih dapat diterima. (The Daily Bible Study: The Letter to the Hebrews, hal. 177).

John Wesley Brill - Keselamatan habel adalah oleh iman. Allah menyaksikan bahwa korban Habel lebih indah daripada korban Kain, sebab korban Habel adalah korban berdasarkan iman. Habel menurut kehendak Allah, sedangkan Kain tidak. Tetapi bagaimana kehendak Allah dinyatakan? Hal ini ditulis dalam Kej 3:15, di mana Injil untuk pertama kali disebutkan. Habel memahami perjanjian itu, bahwa seorang Penebus akan datang dan dengan kematian-Nya, Penebus itu akan mengadakan “suatu korban karena dosa”. Karena semuanya itu, Habel telah mengorbankan seekor domba. Korban domba dituntut oleh Allah dari Adam dan Hawa pada waktu mereka berdosa. Lagi pula Tuhan telah memberikan lukisan tentang korban domba pada waktu Tuhan menyembelih domba dan menggunakan kulitnya untuk pakaian Adam dan hawa. Pastilah Tuhan sudah menyuruh mereka mempersembahkan domba sebagai “korban karena dosa”. Kain dan Habel mengetahui hal itu, tetapi Kain tidak menurut perintah Tuhan, lalu mempersembahkan buah-buahan. Kain tidak beriman bahwa Allah akan menjadikan Juruselamat seperti yang dikatakan dalam Kej 3:15. (Tafsiran Surat Ibrani, hal.178). 

Keberatan :

  1. Peraturan tentang korban berdarah baru diberikan pada zaman yang lebih kemudian (zaman Musa).
  2. Salahkah Kain jika dia mempersembahkan kepada Tuhan sesuai dengan profesi / pekerjaan dia sebagai seorang petani?

Kej 4:2 - Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani

  1. Dalam Hukum Taurat pun, persembahan tidak selamanya harus berdarah.

Im 2:1,4,14 – (1) "Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya. (4) Apabila engkau hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian dari apa yang dibakar di dalam pembakaran roti, haruslah itu dari tepung yang terbaik, berupa roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak. (14) Jikalau engkau hendak mempersembahkan korban sajian dari hulu hasil kepada TUHAN, haruslah engkau mempersembahkan bulir gandum yang dipanggang di atas api, emping gandum baru, sebagai korban sajian dari hulu hasil gandummu.
John J. Davis - Istilah yang diterjemahkan “korban persembahan” dalam bagian ini adalah “minha”, dipakai dalam hukum kitab Imamat tentang korban sajian tanpa penumpahan darah, yang terdiri atas tepung dan minyak atau tepung yang dibubuhi kemenyan (Im 2:1,4,14,15). Istilah ini dipakai juga di PL dalam arti yang lebih luas, termasuk baik persembahan tanpa penumpahan darah maupun persembahan dengan penumpahan darah. Jelaslah, yang dimaksudkan di sini adalah dalam arti yang lebih luas. (Paradise to Prison, hal. 103).

Dengan demikian rasanya tidak tepat kalau dikatakan bahwa Tuhan menerima / menolak persembahan Habel dan Kain berdasarkan jenis persembahan.

Kalau begitu apa alasan yang sesungguhnya? Saya melihat ada 2 alasan mendasar mengapa Tuhan menerima persembahan/ibadah Habel dan menolak persembahan/ibadah Kain :

I.       KARENA HABEL BERIMAN SEDANGKAN KAIN TIDAK.

Darimana kita mengetahui hal ini? Bahwa Habel adalah orang beriman terlihat dari Ibr 11:4.

Ibr 11:4 : Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu…”

Jelas dikatakan bahwa Habel adalah orang beriman. Karena iman itu maka dia memberikan persembahan dan lalu Allah berkenan akan persembahannya.

Bahwa Kain bukan orang beriman terlihat dari 1 Yoh 3:12 :

1 Yoh 3:12 : bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya.

BIS - Janganlah kita seperti Kain, yang menjadi anak Iblis dan membunuh saudaranya sendiri. …”

Bahwa Kain dikatakan berasal dari si jahat, atau anak iblis jelas menunjukkan bahwa dia sama sekali bukan orang beriman.  Bandingkan dengan kata-kaa Yesus :

Yoh 8:44 - Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran….”

Berarti sebagai anak iblis, Kain tidak hidup dalam kebenaran dan di dalam dia tidak ada kebenaran. Ini tidak mungkin adalah orang beriman.

Jadi rupanya persembahan Habel diterima karena Habel adalah orang beriman sedangkan persembahan Kain ditolak karena Kain bukan orang beriman. Perhatikan ayat ini :

Ibr 11:6a : “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah”.

Nah, karena Kain bukan orang beriman sudah pasti persembahan/ibadahnya tidak berkenan kepada Allah. Bahkan kalau kita berbicara lebih jauh, tanpa iman bukan saja orang menjadi tidak berkenan kepada Allah tetapi bahkan apa saja yang ia buat adalah dosa.

Rom 14:23 : “…Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Jikalau seseorang berbuat jahat, sudah pasti itu adalah dosa. Tetapi pada saat dia berbuat baik seperti menolong orang sakit/kecelakaan, memberikan sumbangan untuk korban bencana alam, membantu pembangunan gereja, dsb tetapi ternyata dia bukan orang beriman maka ayat di atas berlaku sehingga menolong orang sakit/kecelakaan, memberikan sumbangan untuk korban bencana alam, membantu pembangunan gereja justru menjadi dosa. Jadi bagi seorang yang tidak beriman, berbuat jahat adalah dosa. Berbuat baik juga adalah dosa. Mungkin saudara berpikir kalau berbuat baik juga adalah dosa, sebaiknya tidak usah berbuat baik. Tapi pada saat saudara tidak mau berbuat baik maka saudara berdosa lagi.

Yak 4:17 - Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
Jikalau ini patokanya maka bagi seorang yang tidak beriman, seluruh hidupnya adalah dosa. Tidak ada 1 kebaikan pun di dalam dirinya. Kebaikannya adalah 0 (nol). Ini sejalan dengan kata-kata Paulus :

Rom 3:12 - Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.

Tit 1:15 – “…bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.
Atas dasar ini maka iman Kristen mengajarkan bahwa manusia tidak bisa diselamatkan dengan perbuatan baik. Bagaimana bisa diselamatkan dnegan perbuatan baik sedangkan perbuatan baiknya 0 (nol) atau tidak ada sama sekali? Yang ada hanya dosa! Seandainya ada kebaikan, lalu seluruh kebaikan itu dikumpulkan dan dibawa di hadapan Allah, Allah akan menilainya sebagai kain kotor.

Yes 64:6 - Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor…

“Kain kotor” di sini adalah kain pembalut wanita pada saat haid. Apakah kita mau andalkan kain pembalut ini sebagai tiket untuk masuk surga? Itu gila namanya!

Atas dasar ini pula maka Kristen yang alkitabiah pasti akan menyatakan bahwa semua orang yang tidak beriman (di dalam agama lain) tidak mungkin diselamatkan. Seluruh hidup mereka adalah dosa, tidak ada 1 kebaikan pun di mata Tuhan. Karean itu jangan percaya dengan ajaran sesat pluralisme yang mengajarkan bahwa di dalam agama lain pun ada keselamatan. Jadi kalau seseorang tidak beriman maka seluruh perbuatannya adalah dosa dan sudah pasti Allah tidak berkenan atas apa pun yang diperbuatnya termasuk ibadahnya. Itulah sebabnya sewaktu Kain memberikan persembahan/beribadah, tidak berimannya dia menyebabkan persembahan/ibadahnya itu menjadi dosa dan karena itu maka Tuhan menolak persembahan/ibadahnya. Sedangkan Habel adalah orang beriman sehingga persembahannya diterima oleh Tuhan.

Ini penting bagi kita! Ingat, kalau saudara tidak beriman, maka seluruh hidup saudara dan seluruh perbuatan saudara adalah dosa sekalipun bersifat rohani seperti kebaktian, Vocal Group / Paduan Suara, mengajar Sekolah Minggu, kunjungan jemaat, memimpin liturgi, bahkan berkhotbah. Semakin saudara giat dalam hal-hal itu, dosa saudara semakin bertambah! Kalau saudara mau berhenti, dosa saudara bertambah juga. Tetapi mungkin saudara berpikir bahwa saudara sudah beriman. Tapi tunggu dulu, iman yang bagaimana? Persoalannya adalah ada banyak orang yang sebenarnya belum beriman, mereka cuma Kristen KTP saja. Mereka aktif di dalam gereja, bahkan duduk sebagai petinggi-petinggi gereja tapi sebenarnya mereka belum sungguh-sungguh beriman bahkan ada yang masih kafir sama sekali. Orang-orang seperti ini tidak pernah mempunyai iman yang sesungguhnya. Mereka akan masuk ke neraka biar pun mereka sewaktu di dunia aktif dalam hal-hal rohani. Menyadari akan hal ini maka seharusnya kita semua memeriksa diri apakah saya sudah beriman sungguh-sungguh kepada Tuhan atau tidak. Jika tidak maka bukan saja seluruh ibadah kita tidak diterima, bahkan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

II.    KARENA HABEL HIDUP BENAR SEDANGKAN KAIN HIDUP JAHAT.

Bahwa Habel hidup benar dan Kain hidup jahat terlihat dari ayat ini :

Mat 23:35 - supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu,…”

CEV - That's why you will be held guilty for the murder of every good person, beginning with the good man Abel (Habel orang baik itu)….

1 Yoh 3:12 : bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.

Tentang 1 Yoh 3:12 ini, perhatikan kata-kata “Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. Ini menunjukkan bahwa bukan karena Kain membunuh Habel maka ia dikatakan jahat melainkan karena ia jahat makanya ia membunuh Habel. Jadi Kain sebenarnya sudah jahat sebelum membunuh Habel. Berarti pada saat dia datang memberikan persembahan/beribadah kepada Tuhan, hidupnya memang sudah jahat. Ini membuat Tuhan tidak berkenan kepada dirinya sehingga lalu apa yang ia persembahkan juga ditolak oleh Tuhan. Ini berbeda dengan Habel yang hidupnya baik/benar. Maka Tuhan berkenan kepada dirinya dan karena itu lalu apa yang ia persembahkan diterima oleh Tuhan.

Jadi di sini kita mendapat satu kebenaran bahwa pertama-tama Tuhan selalu melihat diri / pribadi orang terlebih dahulu setelah itu baru persembahan / ibadahnya. Jikalau Tuhan sudah tidak berkenan pada diri / pribadi orang itu, maka sebanyak apa pun ia memberi persembahan / beribadah, Tuhan pasti menolak itu. Sebaliknya jikalau Tuhan berkenan pada diri / pribadi orang itu, maka persembahan/ibadahnya akan diterima. Perhatikan ayat ini :

Kej 4:4-5 – (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, (5) tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.

Tentang Habel, terlihat bahwa pertama-tama Tuhan mengindahkan pribadinya setelah itu korban persembahannya juga diindahkan-Nya. Tentang Kain, terlihat bahwa pertama-tama pribadinya tidak diindahkan Tuhan lalu menyusul korban persembahannya juga tidak diindahkan.

Jadi kehidupan yang jahat dari seseorang membuat Tuhan tidak akan menerima ibadahnya. Bandingkan :

Amsal 15:8 - “Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenanNya”.

Yes 1:10-13 - (10) Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! (11) ‘Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?’ firman TUHAN; ‘Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. (12) Apabila kamu datang untuk menghadap di hadiratKu, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait SuciKu? (13) Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKu….”

Hal ini perlu kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Ada banyak di antara kita (orang Kristen) yang rajin beribadah setiap hari Minggu tetapi hidup secara brengsek mulai dari hari Senin – Sabtu. Lalu pada hari Minggu datang beribadah dan minta ampun dosa lalu Senin – Sabtu kembali lagi hidup secara sembarangan. Kalau ini yang terjadi, jangan kira ibadah saudara diterima oleh Tuhan. Sebagaimana Tuhan menolak ibadah Kain yang jahat, ia pun akan menolak ibadah saudara.

Memikirkan hal ini maka sudah seharusnya kita menjaga hidup kita setiap hari dan bahkan kita harus melihat bahwa kehidupan setiap hari adalah ibadah kita. Jika demikian maka Tuhan akan menerima ibadah kita.

Rom 12:1 - Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.


- AMIN -